Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!

GoodNovel Selesai

Sebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.

Bab (1)

第1章

Sebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan. Desahan di Dalam Gudang “Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut dan penasaran. “Suara siapa itu?” batinnya. Jaka berjalan mendekat dan melihat pintu belakang gudang sedikit terbuka. Harusnya tidak ada orang di sini, ini gudang terbengkalai yang sudah di tutup setahun lalu, apalagi letaknya jauh dari keramaian desa. Ia mengendap-endap, langkahnya pelan namun terarah pasti menuju pintu tersebut. “Shh! Saya takut, Pak!” Suara itu terdengar lagi. Jaka mengerjap, jantungnya berdebar kencang. “Itu jelas suara desahan, enggak salah lagi,” batinnya. Bermodalkan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Jaka mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dan seketika matanya terbelalak. “P-Pak Kades?!” gumamnya sambil menutup mulut. Di dalam gudang, Jaka melihat Pak Herman—Kades Desa Gunung Jati—sedang berbuat mesum dengan Marni, janda kembang yang kerap membuat mata lelaki melotot saat ia lewat karena bodynya yang aduhai. Jaka membeku, ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Pak Kades sedang mencumbu Marni sambil tangannya terus meremas dua bukit kembar janda itu yang masih terbalut daster. Jaka menelan ludah, ia mundur perlahan. Namun sial, kakinya tidak sengaja menginjak jerigen yang ia letakkan tadi hingga menimbulkan suara cukup nyaring. “Ah, sial!” gerutu Jaka. Di dalam, Pak Kades tersentak mendengar suara tersebut. Marni juga panik, janda itu buru-buru merapikan dasternya yang mulai tersingkap. Pak Kades langsung mengintip untuk melihat siapa di luar. “Jaka?!” Matanya terbelalak saat menemukan Jaka sedang berdiri kaku di luar. “Ngapain kamu di sini?” Pak Kades yang awalnya sedikit takut, langsung kembali mendapatkan keberaniannya saat melihat orang di sana hanyalah Jaka, si pemulung yang bukan siapa-siapa. Jaka menelan ludahnya. Seharusnya di sini, Pak Kades lah yang harus takut, karena skandalnya dengan janda kembang desa ketahuan. Tapi nyatanya tidak, malah Jaka yang tampak gemetaran. Pak Kades menatapnya dengan tajam, menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. “Jaka, awas ya kalau kamu berani membeberkan apa yang kamu lihat tadi.” “Anu, enggak, Pak. Saya—” “Saya bisa usir kamu sekarang juga dari kontrakan,” potong Pak Kades kembali memberi ancaman. “Kamu ingat, kontrakan kamu sudah nunggak tiga bulan. Saya dan istri masih berbaik hati karena kamu masih berkabung karena kematian ibumu minggu lalu.” Pak Kades terus memberikan intimidasi kepada Jaka, agar pemuda itu benar-benar ciut nyalinya untuk membeberkan masalah ini. Jaka mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Di depan, Pak Kades berdiri membusungkan dada, sementara di belakangnya, Marni masih sibuk membetulkan kancing dasternya dengan wajah yang memerah—entah karena nafsu yang terputus atau karena amarah. “Ingat Jaka! Kamu jangan berani macam-macam, kamu tidak punya siapa-siapa di sini!” bentak Pak Kades lagi memberi ancaman. Tanpa menunggu jawaban Jaka, kepala desa itu langsung menggandeng tangan Marni dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah kepergian Pak Kades, Jaka menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ancaman Pak Kades begitu nyata. Memikirkan uang untuk membayar tunggakan kontrakan yang sudah tiga bulan saja cukup membuat kepala Jaka pusing, jadi ia sama sekali tidak ingin menambah masalah baru. Jaka lebih memilih diam. Lagi pula, apa yang dikatakan Pak Kades benar. Jaka hanya seorang diri di sini, dia yatim piatu. Sore itu, Jaka akhirnya pulang membawa karung berisi beberapa jerigen bekas dan botol plastik lainnya. Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan karung itu di belakang. Namun belum sempat ia beristirahat, suara ketukan pintu terdengar begitu keras di depan. Brak Brak! “Jaka?!” Jaka tersentak, ia cukup mengenal suara itu. Itu suara Bu Lilis, istrinya Pak Kades. Bu Lilis yang mengurus kontrakan di sini, wanita itu juga yang suka menagih sewa kepada para penghuni. Jaka menghela napas berat, ia tahu akan kena semprot lagi karena belum punya uang untuk membayar kontrakan. Jaka membuka pintu dan mendapati Bu Lilis berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa. “Mana uangnya?!” bentak Bu Lilis. “Jangan bilang hari ini juga enggak ada.” Jaka menelan ludah. Suara Bu Lilis menggelegar seperti petir di siang bolong, padahal parasnya cukup cantik untuk seukuran wanita yang hampir kepala empat. Bahkan Jaka sendiri terkadang suka melamun saat melihat istri Pak Kades itu, dua bukit kembarnya cukup menggoda apalagi ia sering mengenakan daster berkerah rendah. “Kenapa malah bengong?!” bentak Bu Lilis lagi yang menyadarkan Jaka dari lamunannya. “Anu, Bu. Saya minta waktu dua hari lagi, uangnya belum cukup,” ujar Jaka memohon. “Dua hari, dua hari. Udah tiga bulan kamu nunggak. Kalau enggak ada hari ini, kamu kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang juga! Masih banyak orang yang mau nyewa kontrakan ini, bukan kamu saja,” bentak Bu Lilis lagi. “Bu, saya mohon, Bu. Jangan usir saya. Beri waktu saya dua hari lagi.” Jaka benar-benar merengek, memohon untuk diberi waktu lagi. Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, wanita itu menatap Jaka cukup tajam. “Satu hari lagi. Besok sore kalau kamu belum punya uang, kamu harus keluar dari sini!” Tanpa menunggu jawaban, Bu Lilis langsung pergi dari sana meninggalkan Jaka yang membeku di ambang pintu. “Gimana ini, ya?” Jaka benar-benar bingung, di mana ia harus mencari uang untuk membayar kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Jaka memutar otaknya. Penghasilannya dari memulung barang bekas benar-benar tidak mencukupi, hanya cukup buat makan sehari-hari saja, kadang juga kurang. Ia akhirnya memutuskan untuk menggeledah benda-benda apa saja yang ada di dalam rumah yang kiranya bisa ia jual. Pikirannya benar-benar kacau, hidup sebatang kara di usia yang baru menginjak 23 tahun bukanlah suatu yang mudah. Ia akhirnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya. Ia mulai menggeledah, namun sayang, tidak ada apa-apa. Semasa hidupnya sang ibu hanya buruh cuci. Jadi tidak ada peninggalan mendiang yang kiranya berharga. Jaka menghela napas berat, ia membuka lemari mendiang sang ibu. Itu tempat satu-satunya yang belum ia periksa. Jaka mulai menggeledah isi lemari tersebut yang hanya berisi pakaian tua yang sudah lusuh. Hingga tidak sengaja ia membuka laci paling bawah di dalam lemari. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik perhatiannya. “Apa ini?” Jaka menemukan sebuah kotak kayu. Ia langsung mengambilnya, berharap di dalam ada perhiasan atau apa saja yang bisa ia jual. Jaka membukanya, dan seketika senyum tipis langsung terlukis di bibirnya. Ternyata di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang totalnya ada 500 ribu. Namun bukan itu saja, di sana juga ada gelang yang tampak kusam dan karatan, dan juga ada secarik kertas. Jaka segera mengambil kertas tersebut. Ada tulisan di sana yang ia yakin itu tulisan mendiang ibunya. “Jaka, kalau kamu menemukan kotak ini berarti ibu sudah tiada. Maaf, ibu tidak meninggalkan apa-apa untukmu. Hanya uang ini tabungan yang ibu punya, pergunakanlah sebaik mungkin. Dan satu lagi, jagalah gelang ini baik-baik, Nak, ini gelang peninggalan mendiang ayahmu dulu.” Benda Karet Bu Lilis Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan. Ia tersenyum tipis mengingat kenangan masa kecil bersama ayahnya dulu. Ayahnya meninggal saat Jaka masih berusia delapan tahun, saat Jaka masih duduk di kelas 3 SD. Lalu ia melihat uang 500 ribu peninggalan ibunya. “Terima kasih, Bu,” gumamnya lirih. Setidaknya dengan uang ini, Jaka bisa memberikan panjar terlebih dahulu kepada Bu Lilis, berharap wanita itu mau menerimanya dan membiarkannya tinggal di sini lagi. Biaya sewa kontrakan kecil milik Jaka 400 ribu perbulannya. Dia sudah menunggak selama 3 bulan, berarti Jaka membutuhkan uang 1,2 juta untuk melunasi semuanya. Malam harinya. Bermodalkan uang 500 ribu yang ia kantongi, Jaka pergi ke rumah Pak Kades, ia ingin bertemu dengan Bu Lilis untuk memberikan uang sewa kontrakan. Tok Tok! Tidak lama kemudian pintu terbuka, seorang wanita dengan piyama tidur berdiri di ambang pintu. “Jaka?!” Itu Bu Lilis, seperti biasa, penampilannya selalu saja berhasil membuat Jaka menelan ludahnya. Piyama tidur yang wanita itu pakai begitu tipis, hingga siluet lekuk tubuhnya terlihat samar di bawah lampu teras yang menyala. “Ma-malam, Bu, maaf mengganggu,” kata Jaka terbata-bata. Saking seringnya ia dibentak oleh Bu Lilis, membuat mental Jaka selalu ciut saat bertemu dengan istri Pak Kades tersebut. Namun di luar dugaan, Bu Lilis tidak segarang biasanya. “Nga-ngapain kamu ke sini malam-malam?” tanya wanita itu, suaranya terdengar sedikit bergetar. “Anu, Bu.” Jaka mengangkat wajahnya menatap mata si wanita pemilik tubuh aduhai dan wajah yang mempesona. Deg! Bu Lilis yang biasanya akan langsung tantrum saat melihat Jaka, malam ini tampak berbeda. Wanita itu merasa ada yang aneh, jantungnya tiba-tiba berdebar saat matanya bertemu dengan mata Jaka. Ia menatap Jaka dari ujung kaki ke ujung kepala, tidak biasanya ia melihat pria itu sedalam ini. “Ini, Bu.” Jaka menyerahkan uang 400 ratus ribu pada Bu Lilis. “Saya baru punya segini, untuk satu bulan. Sisa dua bulan lagi nanti akan segera saya lunasi, Bu.” Tangan Jaka gemetar saat memberikan uang tersebut. Ia sudah menyiapkan mental dan telinganya untuk mendengar makian istri Pak Kades itu lagi. Namun lagi-lagi di luar dugaan. Alih-alih memakii Jaka, Bu Lilis malah tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengambil uang yang diberikan Jaka kepadanya. “Ya sudah, kali ini kamu saya kasih kesempatan.” Bu Lilis akhirnya bersuara setelah dari tadi ia diam memandangi Jaka. “Terima kasih banyak, Bu.” Jaka langsung membungkuk, berterima kasih karena diberi keringanan. Bu Lilis menghela napas panjang, hingga membuat dua bukit kembarnya naik turun seirama. Entah mengapa, Jaka terlihat berbeda malam ini di matanya. Pemuda yang biasanya tampak kusam dan bau sampah, kini terlihat cukup tegap dengan bahu lebar dan garis rahang yang tegas. “Ya sudah, Bu, saya permisi dulu.” Jaka membungkuk sejenak, lalu ia segera berbalik arah ingin meninggalkan kediaman Bu Lilis. Namun baru satu langkah ia berjalan, tiba-tiba Bu Lilis kembali memanggil. “Jaka!” Ia menoleh kembali. “I-iya, Bu.” Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, mengatur ritme napasnya yang tiba-tiba saja memburu tanpa ia tahu apa sebabnya. “Besok kamu ke sini, di belakang ada beberapa rongsokan yang udah enggak kepakai lagi,” katanya tegas namun tidak berani menatap mata Jaka. “Oh, iya, Bu, Baik. Besok pagi saya ke sini lagi,” sahut Jaka sambil tersenyum, ia juga merasa sikap Bu Lilis berbeda kepadanya malam ini. “Ya sudah, kamu pulang sana. Saya mau tidur,” kata istri Pak Kades itu lagi, lalu ia segera masuk ke dalam dan menutup pintu. Jaka langsung kembali ke rumahnya. Seharian memulung barang-barang bekas cukup membuatnya lelah dan segera ingin tidur. *** Keesokan paginya. Jaka terjaga cukup pagi seperti biasanya. Hidup seorang diri memaksanya untuk melakukan semuanya sendirian, ia harus mencuci pakaiannya pagi buta lalu menjemurnya, baru setelah itu ia keluar untuk mengais barang-barang bekas guna menyambung hidupnya. Sesuai janjinya kepada Bu Lilis semalam, sekitar jam sembilan pagi, Jaka sudah berada di depan rumah wanita itu. Tok Tok! Bu Lilis membuka pintu dan mendapati Jaka sudah berdiri di depan dengan sebuah karung kosong yang ia sampirkan di bahu. “Oh kamu sudah datang rupanya,” ujar Bu Lilis. Wanita itu hanya mengenakan daster tanpa lengan dan kerah cukup rendah, hingga samar belahan bukit kembarnya mengintip keluar membuat Jaka sedikit salah tingkah karenanya. “Ayo masuk, rongsokannya ada di belakang,” kata wanita itu lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung melangkah ke dalam mengikuti Bu Lilis yang berjalan di depannya. Goyangan pinggul wanita itu cukup membuat Jaka betah berlama-lama di belakangnya. “Ma-maaf, Bu. Pak Kades enggak ada di rumah?” Jaka memberanikan diri untuk bertanya. “Enggak,” jawab wanita itu singkat. “Pagi-pagi tadi udah berangkat dia,” lanjutnya. Ada nada yang tidak mengenakkan dari suaranya. Sepertinya hubungan mereka kurang baik. Di belakang rumah, terlihat tumpukan rongsokan di dekat dinding. “Itu rongsokannya, ambil aja semuanya,” kata Bu Lilis. “Baik, Bu.” Jaka langsung mendekat ke arah tumpukan rongsokan di belakang. Sementara Bu Lilis mengambil kursi plastik dan ikut duduk di sana melihat Jaka yang sedang sibuk memilah-milah rongsokan ke dalam karung. Bu Lilis duduk menyilangkan kakinya hingga dasternya tersingkap memperlihatkan betisnya yang putih mulus. Ia sesekali mengulum senyum sambil melihat lengan Jaka yang tampak kekar saat memindahkan beberapa rongsokan. Entah mengapa, ia cukup betah menatap pemuda itu hari ini. Sementara Jaka, ia mulai memasukkan beberapa rongsokan ke dalam karung, ia tampak sangat fokus, hingga sebuah benda yang ia temukan di sana membuat fokusnya buyar. “Eh, ini?” Kening Jaka mengerut, ia melihat benda karet hitam panjang, persis seperti alat kelamin pria. Jaka mengambilnya, lalu ia menoleh ke arah Bu Lilis yang masih duduk di sana. “Bu… i-ini.” Bu Lilis yang sedang asik memandangi Jaka tiba-tiba tersentak kaget saat melihat benda yang pemuda itu pegang. “Ehh, itu?!” Bu Lilis langsung bangkit dan dengan cepat merebut benda itu dari tangan Jaka. Pipinya langsung merah merona. “Ihh, dasar! Pantesan aku cari-cari enggak ada, pasti si bapak yang buang,” gumamnya yang masih terdengar jelas di telinga Jaka. Jaka cengengesan, ia tahu apa kegunaan benda itu. Apalagi saat melihat Bu Lilis menggenggam benda itu dengan erat, pikirannya langsung melayang kemana-mana. “Apa kamu senyam-senyum?” tanya Bu Lilis gugup sambil menyembunyikan benda itu di balik punggungnya. “A-anu, itu Bu—” “Bukan urusan kamu,” potong Bu Lilis cepat, pipinya merah padam karena malu. Lalu tanpa menunggu jawaban Jaka lagi ia langsung bergegas masuk ke dalam untuk menyimpan benda kesayangannya itu. Jaka menggeleng pelan sambil terkekeh. “Apa punya Pak Kades enggak cukup, ya? Sampe Bu Lilis harus pake benda gituan,” gumamnya. Bertambah Besar Setelah Jaka selesai mengumpulkan semua rongsokan itu, ia langsung berpamitan kepada Bu Lilis yang masih berdiri di ambang pintu belakang menatap ke arahnya. “Udah?” tanya Bu Lilis dengan nada yang sengaja dibuat ketus, padahal pipinya masih merona akibat insiden benda karet tadi. “U-udah, Bu,” sahut Jaka sambil mengulum senyum. Bu Lilis mengernyit, pipinya masih merona. “Kenapa kamu senyam-senyum?” “Eh, anu… enggak, Bu.” Jaka menunduk, namun pikirannya masih bergerak liar memikirkan benda karet yang ia temukan tadi. “Ya sudah, pulang sana,” kata Bu Lilis lagi. “Baik, Bu.” Jaka langsung berjalan masuk ke dalam mengikuti Bu Lilis untuk keluar dari pintu depan. “Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu,” ujar Jaka sambil sedikit menunduk. Bu Lilis hanya mengangguk, tidak menjawab apa-apa. Namun baru beberapa langkah Jaka berjalan, wanita itu kembali memanggil. “Jaka!” Jaka kembali menoleh. “I-iya, Bu.” “Yang tadi… ka-kamu jangan bilang sama siapa-siapa, ya?” katanya gagap, pipinya benar-benar merona. Jaka cengengesan mendengar hal itu. “I-iya, Bu, aman kok. Tapi…” Jaka menggantung ucapannya. “Tapi apa?” tanya Bu Lilis ketus. “Enggak jadi, deh Bu. Ya sudah saya pamit dulu.” “Cih! Dasar, enggak jelas,” ketusnya seakan kesal, namun rona merah di pipinya berkata lain. Selepas dari rumah Bu Lilis, Jaka langsung menuju ke pinggiran kota untuk membawa barang bekasnya ke penadah. Karung besarnya kini terisi penuh, namun anehnya, Jaka sama sekali tidak kesusahan saat memikulnya. Di tempat penadah, seorang lelaki dengan mata sipit berkacamata duduk di balik meja menatapnya. “Hayya! Jaka, lu punya banyak balang hari ini?” Itu Koh Ahong, lelaki paruh baya keturunan Cina. Ia sudah cukup mengenal Jaka. “Lu bawa apa aja hari ini?” tanya Koh Ahong lagi sambil melihat isi karung yang baru diletakkan oleh Jaka. “Ini, Koh. Ada beberapa, ada besi, plastik, ada juga aluminium,” jawab Jaka sambil membongkar isi karungnya. Koh Ahong mengelus janggut tipisnya. “Tumben lu punya banyak balang hari ini.” “Lagi hoki, Koh,” jawab Jaka sekenanya. “Ya sudah, owe timbang dulu.” Jaka berdiri menunggu lelaki keturunan cina itu memilah dan menimbang barang bawaannya. “Hayya, lu olang benar-benar hoki, ini sangat banyak,” kata Koh Ahong setelah menimbang beberapa barang. Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Jaka hanya tersenyum, ia cukup senang. Tidak biasanya ia mendapat banyak barang seperti ini. Bukan itu saja, barang ini semua ia ambil gratis di rumah Bu Lilis, wanita yang terkenal galaknya minta ampun. Setelah selesai menimbang, Koh Ahong langsung merogoh dompetnya. “Nah, ini uangnya,” kata lelaki itu sambil menyerahkan uang 150 ribu kepada Jaka. “Wah, beneran nih, Koh? Banyak amat?” Jaka seolah tidak percaya dengan uang yang ia dapat. “Hayya, lu olang aneh banget, dapat dikit salah, dapat banyak juga salah,” gerutu Koh Ahong sambil membetulkan kacamatanya. Jaka terkekeh, segera menyambar uang 150 ribu itu dan memasukkannya ke saku celana dengan perasaan puas. "Bukannya gitu, Koh. Biasanya kan cuma dapat lima puluh ribu kalau karungnya segini. Makasih ya, Koh!" Koh Ahong hanya mengibaskan tangan, menyuruh Jaka pergi. Namun, sesaat sebelum Jaka membalikkan badan, mata jeli Koh Ahong menangkap sesuatu yang berkilau di pergelangan tangan pemuda itu. "Oey, Jaka! Tunggu dulu," panggil Koh Ahong tiba-tiba. Jaka menoleh, merasa waswas jika Koh Ahong salah hitung timbangan dan ingin meminta uangnya kembali. "Kenapa, Koh?" "Itu di tangan lu... gelang apa?" Koh Ahong mendekat, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit. "Coba owe lihat sebentar." Jaka sedikit ragu, namun ia mendekatkan tangannya. Koh Ahong tidak menyentuhnya, ia hanya memperhatikan detail karat yang mulai luntur dan memperlihatkan guratan kuno di permukaan gelang tersebut. "Hayya... lu dapat dari mana ini?" tanya Koh Ahong dengan nada yang berubah serius, tidak ada lagi logat bercandanya. "Ini peninggalan mendiang Bapak, Koh. Kenapa emangnya?" tanya Jaka heran. Koh Ahong diam sejenak, tampak berpikir keras. "Enggak... kayaknya itu cuma besi tua yang sudah buluk. Tapi, kalau lu mau jual, owe bisa kasih harga tinggi. Bagaimana?" Jaka tersentak. Tawaran Koh Ahong yang mendadak itu justru membuatnya curiga. Jika seorang penadah pelit seperti Koh Ahong berani menawar barang yang buluk, berarti barang itu punya nilai yang tidak main-main. "Enggak, Koh. Ini peninggalan orang tua, mau saya simpan saja," tolak Jaka tegas. Koh Ahong hanya mengangkat bahu, walau matanya masih terus menatap gelang itu sampai Jaka keluar dari gudangnya. "Ya sudah, kalau lu berubah pikiran, datang sama owe ya!” Akhirnya siang itu, Jaka pulang ke desa dengan perasaan senang. Ia merasa cukup beruntung hari ini. Namun bukan itu saja, di perjalanan menuju rumah ia merasa tatapan para warga mulai berubah kepadanya. Mereka yang biasanya membuang muka dan menutup hidung saat Jaka melintas, kini malah tampak tertegun melihatnya. “Kenapa ya orang-orang?” gumamnya yang belum sadar jika aura dan kharismanya mulai menguar hebat. Hingga akhirnya ia berhenti di warung nasi di perempatan, hendak membeli makan siang. Kebetulan di sana ada Marni—si janda kembang simpanan Pak Kades. Jaka berdiri tepat di sebelahnya. “Eh, Mbak Marni,” sapa Jaka spontan. Bahkan ia sendiri terkejut kenapa ia sepercaya diri ini. Marni menoleh, matanya terbelalak melihat Jaka di sebelahnya. Ia segera menunduk, malu karena kejadian kemarin di gudang. “Mau beli nasi juga, Mbak?” tanya Jaka basa-basi. “I-iya.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut janda kembang itu, namun entah mengapa ada debar aneh di jantungnya yang membuat ia sesekali melirik ke arah Jaka. “Ini, Mar, nasi kamu,” kata si ibu penjaga warung. “Iya, Bu. Ini uangnya.” Setelah mengambil pesanannya, Marni langsung beranjak dari sana dengan pipi masih merona merah. Jaka hanya melirik sekilas ke arah pinggul Marni yang bergoyang kiri kanan saat ia berjalan. Namun suara si ibu penjaga warung segera membuyarkan hayalannya. “Jaka, kamu mau beli apa mau ngutang hari ini?” “Beli lah, Bu, hehe.” Jaka cengengesan. “Satu, Bu ya? Mata sapi aja.” Si ibu sedikit mengernyit menatap Jaka. “Kenapa, Bu?” tanya Jaka heran. “Eh, enggak. Kamu agak beda aja hari ini,” jawab si ibu sambil menyiapkan pesanan. “Beda?” gumamnya sambil mengangkat bahu. Jaka tidak terlalu menghiraukan perkataan si ibu barusan. Lima menit kemudian, pesanannya siap. “Ini Jaka,” kata si Ibu sambil menyodorkan nasi bungkus kepada Jaka. “Ini Bu, uangnya.” Setelah selesai membeli makan siang, Jaka langsung kembali ke rumah. Sebelum makan, ia menyempatkan diri untuk mandi. Cuaca akhir-akhir ini memang cukup terik. Jaka membuka baju dan celananya, menyisakan celana dalam saja. Namun saat ia hendak melilitkan handuk di pinggangnya, Jaka tersentak melihat gundukan miliknya tampak lebih besar. “Eh, kok punya gue jadi besar begini, ya?” gumamnya bingung. Ia menarik celana dalamnya untuk melihat miliknya di dalam sana. “Astaga! Kok bisa begini?” Betapa terkejutnya Jaka, saat melihat kejantanannya kini lebih besar dari sebelumnya, padahal ia tidak ereksi sama sekali. Bu Susi dan Kelas Kosong Setelah makan siang, Jaka duduk di depan rumah sambil menghisap sebatang rokok. Pikirannya masih melayang memikirkan beberapa kejadian aneh yang dialaminya hari ini. Dari mulai sikap warga yang mulai lebih baik kepadanya sampai perubahan fisiknya yang membuat Jaka sendiri heran. Jaka meraba otot lengannya yang terasa lebih kekar, perutnya juga mulai tampak sixpack layaknya orang yang rutin nge-gym di tempat kebugaran. Dan yang lebih membagongkan ukuran kejantanannya yang bertambah besar hampir dua kali lipat dari sebelumnya. “Apa gara-gara gelang ini, ya?” gumamnya sambil memperhatikan gelang di tangan kirinya. “Ah! Mana mungkin,” gumamnya lagi. Jaka yang cukup skeptis pada hal-hal berbau supranatural tentu saja tidak percaya jika sebuah benda seperti gelang ini bisa memberikan perubahan yang signifikan dalam hidupnya. “Ya udahlah ya, yang penting gue enggak kenapa-napa,” gumamnya lagi tidak terlalu peduli dengan perubahan aneh tersebut. Setelah cukup beristirahat di rumah, Jaka kembali mengambil karungnya. Tidak mungkin baginya bisa bersantai-santai saja di rumah seperti ini. Jaka masih memiliki hutang 800 ribu kepada Bu Lilis untuk melunasi kontrakan dua bulan lagi. Jaka mulai berjalan mengelilingi desa untuk mengais beberapa barang bekas yang bisa ia jual lagi nanti. Di mana ada tumpukan sampah, di situ ada Jaka. Tidak banyak yang ia temukan hari ini, hanya ada beberapa botol plastik dan kardus bekas yang harganya tidak seberapa. Jaka berteduh di pinggir jalan, menyeka keringat dengan punggung tangannya. “Hmm, mau cari di mana lagi ya?” gumamnya bingung. “Yang di desa udah pada habis semua.” Sambil terus melihat-lihat sekeliling, akhirnya Jaka teringat satu tempat yang mungkin bisa ia kunjungi. “Apa ke sana aja, ya?” Jaka teringat bangunan sekolah dasar di ujung desanya. Sekolah itu sedang ada pembangunan untuk penambahan kamar mandi baru. “Iya sih, ke sana aja. Dari pada enggak dapat apa-apa di sini,” gumamnya lagi membulatkan tekad. Akhirnya menjelang sore, Jaka pergi ke sana. Jaraknya tidak terlalu jauh, karena masih di satu desa hanya saja letaknya tepat di perbatasan. Bangunan sekolah itu tampak sepi, karena jam segini tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar di sana. Sambil melihat sekeliling, Jaka masuk ke dalam pekarangan sekolah tersebut. Jaka langsung menuju ke belakang, tempat lokasi pembangunan kamar mandi baru dibuat. Di sana ada tumpukan material dan besi bangunan yang masih utuh. Sempat terlintas ingin mencuri besi tersebut dalam pikirannya, namun segera ia urungkan. Jaka lebih memilih mengambil besi-besi sisa yang tidak terpakai lagi. Namun saat Jaka sedang asik mengutip beberapa besi sepanjang jari telunjuk di tanah, tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara teriakan seorang wanita. “Ahh! Tolong, jangan!” “Eh, suara siapa itu?” Jaka bangkit, menajamkan pendengarannya. Suara itu sepertinya berasal dari salah satu bangunan kelas di depannya. Bermodalkan rasa penasaran dan niat menolong takut terjadi apa-apa, Jaka akhirnya buru-buru ke arah sumber suara. Ternyata di dalam salah satu kelas di belakang, terlihat seorang guru wanita sedang tersudut ke dinding, di depannya ada seorang lelaki bertubuh tinggi tegap. “Diam! Atau ku robek mulutmu!” ancam si lelaki sambil mengacungkan pisau. Wanita itu langsung terdiam bisu, melihat bilah pisau yang mengkilap di depan matanya. “To-tolong, jangan sakiti saya,” lirihnya memohon. Lelaki itu menyeringai buas, ada kilatan nafsu birahi yang memuncak di matanya. “Kau pilih kulum pisau ini, atau kulum punyaku?” tanyanya sambil melirik ke arah kejantanannya yang mulai bangun di bawah sana. “To-tolong jangan…” Namun lelaki itu tidak menggubris sama sekali, ia langsung merobek seragam guru wanita itu dengan pisau di tangannya, hingga dua bukit kembarnya menyembul keluar. “Akkhh!” Wanita itu kembali berteriak, namun si lelaki langsung membekap mulutnya dengan tangannya yang hitam legam. “Puaskan aku hari ini, Bu Susi,” desisnya dengan penuh nafsu. Namun tiba-tiba, suara pintu yang didobrak langsung mengejutkan mereka berdua. Brak! Itu Jaka, pria itu langsung tersentak hebat melihat pemandangan di dalam. “Jaka! Tolong!” teriak wanita itu tertahan. “Eh, Bu Susi?!” Jaka mengenal guru tersebut, karena mereka satu desa. Dan juga, Jaka mengenal sosok lelaki yang bertubuh tegap di depannya, lelaki itu preman dari desa sebelah. Jaka menelan ludahnya, nyalinya sedikit menciut saat melihat bilah pisau di tangan lelaki itu. "Heh, pemulung sampah! Mau jadi pahlawan kau?" bentak si preman sambil meludah ke samping. Ia tidak melepaskan bekapan tangannya pada Bu Susi, justru semakin merapat ke arah guru cantik itu. Jaka gemetar. Matanya melirik ke arah pisau yang berkilau tajam. Namun, saat melihat air mata Bu Susi dan seragamnya yang robek, rasa panas tiba-tiba menjalar dari tangannya hingga ke ubun-ubun. "Lepaskan Bu Susi!" teriak Jaka. Suaranya terdengar jauh lebih berat dan berwibawa dari biasanya, bahkan ia sendiri kaget mendengarnya. Si preman tertawa mengejek. "Cari mati kau rupanya!" Ia melepaskan Bu Susi dan menerjang ke arah Jaka dengan pisau terhunus. Jaka mengerjap, ia terbelalak melihat pisau yang terhunus ke arahnya. Namun anehnya, tubuh Jaka bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ia bisa menghindar dengan mudah, lalu dengan cepat mengepalkan tangan kanannya dan meninju preman itu dengan sangat kuat. Bugh! “Akhhh!” Preman itu memekik dan terhuyung menabrak meja. Bruk! Lalu jatuh dan pisau terlepas dari tangannya. Jaka dengan sigap mengambil pisau itu untuk berjaga-jaga. Preman itu bangkit perlahan sambil memegang pipinya yang memar akibat tinju Jaka barusan. “Akhhh! Bedebah!” dengusnya kesal. Namun nyalinya segera ciut saat melihat Jaka sudah berdiri di depannya dengan pisau di tangan. Tidak ingin mengambil resiko, preman itu akhirnya memilih melarikan diri sambil memberikan ancaman kepada Jaka. “Awas kau bajingan!” Jaka menghela napas lega, ia sudah cukup takut sejak tadi. Jaka buru-buru menyimpan pisau itu ke dalam karungnya untuk berjaga-jaga takut si preman kembali. Lalu ia menoleh ke arah Bu Susi yang meringkuk di sudut sambil memeluk dadanya yang kini tanpa penutup sehelaipun. “Bu Susi, ibu enggak apa-apa?” Bu Susi tidak menjawab, ia hanya terisak kecil dengan tubuh yang masih gemetar hebat. Rambutnya berantakan, dan wajahnya pucat pasi. Ia berusaha menutupi dua bukit kembarnya yang putih mulus dengan sisa-sisa kain seragamnya yang sudah compang-camping, namun sia-sia. Bagian dadanya tetap terekspos jelas di depan mata Jaka. Jaka menelan ludah. Di satu sisi, ia merasa iba. Namun di sisi lain, pemandangan bukit kembar yang putih mulus itu benar-benar membuat sesuatu di bawah perutnya bereaksi. "Bu... i-ini, pakai baju saya dulu," ujar Jaka sambil buru-buru melepas kaos oblongnya. Kini giliran Jaka yang bertelanjang dada. Bu Susi yang awalnya menunduk, perlahan mengangkat wajahnya untuk mengambil kaos tersebut. Saat itulah mata Bu Susi terbelalak. Ia tidak menyangka di balik baju lusuh Jaka sang pemulung, terdapat tubuh yang begitu atletis dengan otot-otot yang terpahat sempurna. Bu Susi melongo sejenak, hingga akhirnya ia melepas dekapannya pada dua aset berharganya untuk mengambil kaos di tangan Jaka. Saat itulah, dua bukit kembar itu terlihat jelas di mata Jaka, dua gundukan kenyal yang putih mulus dengan ujung merah muda yang ranum. Pikiran Jaka langsung bergerak liar, dua aset itu benar-benar indah. Putih, mulus, masih kencang. Dan yang paling membuat Jaka uring-uringan—ujung merah mudanya tampak mengeras seolah mengundang Jaka untuk segera membelainya. Godaan Si Guru Cantik Akhirnya sore itu, Jaka mengurungkan niatnya untuk mengais barang bekas. Ia memilih mengantar Bu Susi sampai ke rumah yang kebetulan satu arah dengan rumahnya. Sepanjang perjalanan, mata Jaka tidak pernah lepas dari dua bukit kembar guru itu yang tampak naik turun seirama langkah kakinya. Kaos Jaka yang lumayan sempit membuat dua aset kembar itu tercetak jelas. “Anu, Bu, kok ibu bisa di sekolah sore-sore begini sendirian?” tanya Jaka membuka obrolan. Bus Susi menunduk, kejadian tadi cukup membuat mentalnya terguncang. “Tadi saya telat pulang, ngerjain laporan murid karena ini hampir ujian,” jawab guru cantik itu dengan suara bergetar. “Tapi… pas saya mau keluar, tiba-tiba orang itu ada di sana dan langsung nyeret saya ke dalam.” Bu Susi menoleh ke arah Jaka. “Untung aja ada kamu, Jaka,” katanya dengan mata berbinar. “Makasih, ya?” Jaka menelan ludah, “i-iya, Bu. Sama-sama.” Bu Susi sendiri adalah seorang guru pindahan dari kota, baru sekitar enam bulan lalu ia tinggal di desa ini. Suaminya bekerja di kilang minyak dan pulang sekitar 2 sampai 3 bulan sekali. Bu Susi tinggal bersama putranya, Rendi, yang masih berusia tiga tahun. “Kamu enggak kedinginan?” tanya wanita itu lagi sambil melirik otot lengan Jaka yang tampak kekar. “Enggak, Bu. Enggak apa-apa, kok.” Jaka tersenyum ramah, walau matanya sesekali masih terpaku pada dua bukit kembar yang naik turun di bawah leher Bu Susi. “Makasih ya Jaka, kamu sampai telanjang dada begitu gara-gara kasih kaos buat saya,” ujar wanita itu lagi sambil meremas ujung kaos Jaka yang ia pakai. “Enggak apa-apa, Bu. Enggak usah dipikirin,” sahut Jaka santai. Tidak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah Bu Susi yang tampak asri dengan pagar tanaman yang rapi. Suasana sudah mulai remang-remang karena matahari hampir tenggelam sempurna. "Sudah sampai, Bu," ujar Jaka sambil berhenti di depan pagar. Bu Susi tidak langsung masuk. Ia berdiri diam, menatap Jaka dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jaka... kamu jangan langsung pulang. Tunggu sebentar, saya ganti baju dulu, biar kamu bisa pake lagi baju ini.” Jaka hendak menolak, namun Bu Susi sudah terlanjur menarik pergelangan tangannya. Akhirnya Jaka mengikut saja dan duduk di teras menunggu Bu Susi yang sedang mengganti baju di dalam. Tidak lama kemudian, wanita itu kembali. Ia sudah memakai daster rumahan yang lumayan tipis, namun ada sesuatu yang menarik perhatian Jaka. Ujung bukit kembarnya tercetak jelas di balik kain tipis nan halus tersebut. Jaka menelan ludah, Bu Susi sepertinya tidak mengenakan dalaman. “Ini Jaka,” kata Bu Susi pelan namun berhasil membuyarkan lamunan Jaka yang mulai liar. “Loh, apa ini, Bu?” tanya Jaka heran. Bu Susi bukan hanya mengembalikan kosnya, wanita itu juga memberikan sebuah amplop untuknya. “Ini tanda terima kasih saya Jaka, kamu terima ya?” ujar Bu Susi penuh harap. “Kalau enggak ada kamu tadi, saya enggak tau bakalan gimana.” “Anu, Bu. Tapi—” “Udah, Jaka.” Bu Susi langsung memotong sambil meraih tangan Jaka memaksa menerima amplop darinya. “Terima aja, ya?” Bu Susi memang termasuk salah satu keluarga berada di desa ini, ia yang bekerja sebagai guru dan suaminya yang bekerja di kilang minyak tentu saja mempunyai penghasilan bulanan yang stabil. Karena Bu Susi memaksa, akhirnya Jaka menerima amplop tersebut. “Ya udah, Bu. Terima kasih banyak,” kata Jaka sambil tersenyum. Bu Susi membalas senyum tersebut, namun rona merah di pipinya terlihat jelas sedari tadi. Dan wanita itu tampak betah memegang tangan Jaka. Suasana hening sejenak saat mata mereka berdua bertemu. “Oh, ya Bu, Rendi mana?” tanya Jaka basa-basi sambil menarik tangannya. “Oh, itu sama Mbok Minah, kalau saya lagi ngajar, Rendi saya titipin sama Mbok Minah di sebelah,” jawab wanita itu menjelaskan. Jaka hanya mengangguk pelan, ia menyimpan amplop tersebut ke dalam sakunya. Lalu segera memakai kembali kaosnya untuk menutupi tubuh. Aroma tubuh Bu Susi langsung menguar dari kaos tersebut memberikan sensasi aneh pada penciuman Jaka. “Bu, anu… saya—” “Masuk dulu, yuk! Jangan langsung pulang,” potong Bu Susi cepat. Tanpa menunggu jawaban Jaka wanita itu langsung menarik tangannya ke dalam. “Duduk dulu biar saya buatin minum,” katanya lagi, lalu ia beranjak ke dapur. Jaka duduk namun matanya terus mengikuti lekuk pinggul guru cantik itu yang sangat menggoda. Sedikit dasternya tampak menyelip ke dalam belahan pantat menandakan wanita itu memang tidak mengenakan dalaman atas bawah. “Jaka… kamu mau minum apa?” tanya Bu Susi dari dapur. “Apa aja, Bu,” jawab Jaka singkat sambil membenarkan posisi kejantanannya yang mulai sesak di dalam celana. Tidak berselang lama wanita itu kembali membawa segelas sirup yang tampak segar. “Ini Jaka, diminum dulu,” katanya sambil meletakkan minuman di atas meja. Lalu ia segera duduk tepat di sebelah Jaka, hingga aroma tubuh wanita itu menyerang penciuman Jaka begitu hebat. Jaka langsung meneguk sirup tersebut sampai habis. “Jaka, kamu haus, ya?” tanya Bu Susi sambil terkekeh. “Hehe, iya Bu.” Jaka hanya cengengesan sambil mengusap tengkuknya. “Mau minum lagi?” “Hah?” “Mau sirup lagi? Atau kamu mau minum yang lain?” tanya Bu Susi menegaskan. Jaka mengernyit. “Minum yang lain? Apa, Bu?” “Hmm… apa ya?” sahut Bu Susi sambil memutar manik matanya dan mengulum senyum. “Kamu mau susu?” “Susu?” “Iya, susu saya.” “Eh?!” Jaka tersentak. “Eh, bukan! Maksud saya, ada susu di belakang, kamu mau?” Bu Susi langsung menunduk malu. “Oh, hehe kirain,” sahut Jaka cengengesan. “Emang kamu mikir susu apaan tadi? hayoo!” goda guru cantik itu. “Hehe, enggak, Bu.” Jantung Jaka benar-benar berdebar. “Tapi enggak usah, Bu. Udah cukup kok.” “Jadi, beneran nih enggak mau susu?” tanya Bu Susi lagi, kata-katanya begitu ambigu. “Hehe, bener, Bu.” Jaka hanya cengengesan, sambil sesekali merapatkan pahanya agar gundukan di celananya tidak terlihat. “Oh, ya udah kalau begitu,” ujar Bu Susi sambil bersandar di sofa, membuat goncangan pada dua bukit kembarnya terlihat jelas. “Anu, Bu. Saya mau pulang dulu, udah sore.” Jaka langsung bangkit, namun ia lupa jika gundukan di celananya terlihat jelas kini. “Loh, Jaka! Itu?” Bu Susi langsung memalingkan wajahnya, pipinya benar-benar merona melihat gundukan di celana Jaka. “Eh, maaf, Bu.” Jaka reflek menutup selangkangannya dengan tangan. “Kok itu bangun sih?” tanya Bu Susi sambil melirik pelan. “Enggak tau, Bu, bangun sendiri dia,” jawab Jaka polos sambil terus menutup selangkangannya. “Dasar kamu! Bisa bahaya itu kalau bangun tiba-tiba begitu,” goda Bu Lilis sambil bangkit dan mencolek pinggang Jaka. Jaka hanya cengengesan, pipinya merah menahan malu. “Ya sudah,” kata Bu Lilis lagi. “Kalau kamu ada waktu nanti, main-main ke sini, di belakang ada beberapa rongsokan yang bisa kamu ambil.” “Iya, Bu, baik. Nanti kapan-kapan saya mampir ke sini buat ambil rongsokannya,“ jawab Jaka gugup sambil terus memegang selangkangannya. “Ya udah, Bu. Saya pamit, ya?” “Iya, Jaka. Makasih ya?” Jaka mengangguk lalu segera beranjak dari sana. Jantungnya berdebar hebat. Namun, ia cukup senang, selain bisa melihat dua bukit kembar Bu Susi tadi, Jaka juga mendapat hadiah amplop. Jaka yakin isinya adalah uang, namun ia tidak tahu berapa jumlahnya karena belum membukanya. Namun setidaknya dengan uang pemberian Bu Susi ini, ia bisa mencicil kontrakan Bu Lilis yang tersisa dua bulan lagi. Hasrat Bu Lilis Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka jika Bu Susi akan memberikannya uang sebanyak itu. “Emang orang kaya mah beda, ngasih 500 ribuan kayak ngasih dua rebu ke tukang parkir,” gumamnya senang. Jaka memegang uang tersebut dengan mata berbinar. “Bisa buat tunggakan kontrakan ini,” gumamnya sambil menyimpan uang tersebut di bawah bantal. Jaka langsung bersiap-siap untuk mandi karena nanti malam ia akan mengunjungi rumah Bu Lilis untuk menyetor uang kontrakan satu bulan lagi. Jaka begitu antusias kali ini, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi di dalam hidupnya. Sejak semalam orang-orang seolah mulai bersikap baik kepadanya. Setelah mandi, Jaka berdiri di depan cermin kecil di dalam kamarnya, memastikan pakaiannya rapi dan rambutnya tersisir sempurna. Jaka yang jarang bercermin selama ini tidak sadar jika wajahnya mulai terlihat cerah, tidak lagi kusam seperti biasanya. Setelah memastikan semuanya rapi, ia mengambil uang 400 ratus ribu dan langsung bergegas menuju rumah Bu Lilis untuk membayar sisa tunggakan kontrakan. Waktu baru menunjukkan pukul 8 malam saat Jaka tiba-tiba di depan rumah wanita itu. Jaka menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Namun tangannya terhenti di udara, saat ia tidak sengaja mendengar percekcokan di dalam rumah. “Bapak mau ke mana? Pasti mau ke tempat si janda itu lagi, kan?” Deg! Itu suara Bu Lilis, sepertinya wanita itu sedang ribut dengan suaminya. Jaka tidak jadi mengetuk, ia hanya berdiri diam di luar. “Ibu jangan sembarangan nuduh!” terdengar suara Pak Kades disusul dengan suara piring pecah. Prang! Jaka tersentak, sepertinya keributannya cukup parah di dalam. Merasa ini bukan waktu yang tepat, Jaka hendak pergi dari sana. Namun belum lagi ia berbalik badan, pintu tiba-tiba terbuka. Klek! “Jaka?!” Itu Pak Kades, wajahnya tampak merah padam karena kesal. “P-Pak.” “Ngapain kamu di sini?” bentak lelaki itu. “Anu, sa-saya—” Belum sempat Jaka menjelaskan tujuannya, Bu Lilis datang dan langsung memotong pembicaraan. “Jaka! Kenapa kamu ke sini?” “I-ini, Bu… saya mau bayar kontrakan,” jawab Jaka setengah takut karena sedari tadi Pak Kades melotot ke arahnya. Bu Lilis menatap sinis ke arah suaminya, lalu kembali menatap Jaka dengan pandangan yang berbeda. “Ya udah, masuk!” katanya tegas. Jaka melirik sekilas ke arah Pak Kades sebelum melangkah ke dalam. “Permisi, Pak,” katanya sopan. Namun baru satu langkah Jaka berjalan, Pak Kades menahan lengannya. Lalu mendekat dan berbisik, “Awas kamu ya kalau sampai ngadu ke istri saya perihal di gudang kemarin,” ancamnya. Jaka menelan ludahnya, ia segera mengangguk pasrah. Pak Kades melirik ke arah Bu Lilis sejenak, lalu ia segera pergi dari sana. Jaka menghela napas lega, ancaman Pak Kades tadi cukup mengguncang mentalnya. Bu Lilis mendengus kesal seraya melihat punggung suaminya yang mulai meninggalkan pekarangan rumah. Lalu wanita itu kembali menoleh ke arah Jaka. “Ngapain masih di situ? Cepat masuk!” “I-iya, Bu.” Setelah Jaka masuk ke dalam, Bu Lilis langsung menutup pintu. Walau wajahnya terlihat masih kesal, namun ia tidak berbicara kasar kepada Jaka. “Kamu mau bayar kontrakan?” tanya wanita itu sambil melihat Jaka yang berdiri di depannya dari ujung kaki ke ujung kepala. “I-iya, Bu. Kebetulan saya udah punya uang,” sahut Jaka gugup, ia takut dijadikan pelampiasan kemarahan istri kepala desa tersebut. “Ya udah, duduk!” kata wanita itu lagi lalu ia duduk di sofa ruang tamu. Jaka mengangguk dan langsung duduk tepat di depan Bu Lilis. “I-ini, Bu, uangnya. Saya baru bisa bayar segini,” ujarnya sambil meletakkan uang 400 ribu di atas meja. “Nanti sisanya yang satu bulan lagi akan saya usahakan secepatnya.” Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, ia tidak langsung mengambil uang tersebut, melainkan merebahkan punggungnya di sofa sambil menatap Jaka. “Kamu dengar keributan tadi?” tanyanya sambil menatap Jaka penuh arti. “I-iya, Bu. Saya minta maaf, saya enggak sengaja nguping,” kata Jaka sambil menunduk. “Tidak apa-apa, semua orang di desa juga tau kalau suami saya dekat sama janda sialan itu,” katanya sambil mendengus kesal. Jaka langsung paham siapa yang dimaksud Bu Lilis. Namun ia memilih diam tidak ingin ikut campur lebih jauh masalah ini. Namun siapa sangka Bu Lilis malah memiliki rencana lain di benaknya saat melihat Jaka. Bu Lilis kembali duduk tegak, malah tampak sedikit condong ke arah Jaka. “Saya yakin dia selingkuh, tapi saya belum punya bukti yang kuat.” Jaka masih diam berusaha agar tidak terpancing untuk membuka rahasia Pak Kades. “Dia pikir cuma dia yang bisa selingkuh,” gerutu Bu Lilis lagi. Lalu ia bangkit dan berpindah tempat di sebelah Jaka. Deg! Jantung Jaka berdetak hebat saat tangan mulus wanita itu mendarat di atas pahanya. “Jaka, ambil uang ini,” katanya tiba-tiba. “Saya akan anggap tunggakan kontrakan kamu yang sisa dua bulan lunas.” “Hah, beneran Bu?” Jaka menoleh, tatapan mereka bertemu. Bu Lilis mengangguk, pipinya mulai merona. “Tapi ada satu syarat,” katanya lagi. “A-apa, Bu?” “Kamu harus jadi selingkuhan saya,” jawab wanita itu sambil memegang tangan Jaka. “Apa?!” Betapa terkejutnya Jaka mendengar hal itu. “Ta-tapi, Bu—” “Kenapa?” potong Bu Lilis cepat. “Apa saya tidak menarik?” katanya lagi sambil menggigit bibir bawahnya. “Bu-bukan, tapi—” “Saya lelah, selama ini saya cukup sabar.” Bu Lilis tampak murung. “Kamu tau benda karet yang kamu temukan tadi pagi, Jaka?” Jaka menelan ludah, apalagi kini Bu Lilis mulai menggenggam tangannya. “Bayangkan, saya sudah menikah. Tetapi hampir setiap malam saya harus memuaskan diri dengan benda itu,” katanya lagi sambil menatap Jaka dalam-dalam. “Saya bosan, Jaka. Saya lelah.” Ia mulai memegang pipi Jaka. “Saya rindu kehangatan yang nyata, bukan benda mati seperti itu.” Jantung Jaka berdebar hebat, ia benar-benar tidak menyangka wanita yang selama ini bagai singa betina yang kelaparan, malah menawarkan hal itu kepadanya. Jaka terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Sementara Bu Lilis semakin mendekatkan wajahnya, pipinya benar-benar merona. Entah mengapa ia begitu terangsang saat melihat Jaka hari ini. Bahkan semenjak insiden benda karet tadi pagi, wajah Jaka yang polos selalu terngiang di kepalanya. “Kamu mau, kan?” bisiknya lembut sambil tersenyum menggoda. Gairah Terpendam Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggiurkan, lelaki mana yang mampu menolak ajakan hubungan dengan istri Pak Kades yang bohai ini, lagipula Bu Lilis juga menjanjikan kontrakan Jaka yang menunggak dua bulan akan lunas. “Jaka, lihat saya,” kata Bu Lilis lagi, tangannya yang mulus kini mulai memegang pipi Jaka. “Saya rasa kamu orang yang tepat, Jaka. Saya…” Bu Lilis menggantungkan ucapannya. Tangannya kini mulai memegang tangan Jaka dan menuntunnya ke arah dua aset berharga di bawah lehernya. “Saya tahu, selama ini kamu selalu curi-curi pandang ke sini, kan?” katanya lagi yang membuat jantung Jaka berdebar hebat. “Jaka, saya tidak tahu mengapa, akhir-akhir ini kamu cukup menarik,” katanya lagi sambil memegang tengkuk Jaka. Jaka tidak tahu harus menjawab apa, tangannya sedikit gemetar di atas dada Bu Lilis. Namun sesuatu di dalam celananya mulai menggeliat—menciptakan gundukan besar yang memancing tawa kecil istri Pak Kades tersebut. Wanita itu terkekeh saat melihat gundukan tersebut. “Kenapa, Jaka?” tanyanya sambil mengedipkan mata. “Kamu mau kan? Buktinya itu bangun,” katanya lagi sambil mengelus lembut gundukan tersebut. “Ahh!” Jaka mengerang rendah. Sebagai lelaki normal, tidak mungkin ia tidak terangsang dengan perlakuan Bu Lilis. “Anu, Bu. Saya—” Deg! Jaka terkejut, suaranya terhenti di tenggorokan saat tiba-tiba Bu Lilis langsung melumat bibirnya dengan liar. Tangan lembut wanita itu mulai meremas dan bermain dengan gundukan besar di balik celananya. Mendapat rangsangan yang tiada henti sedari tadi, pertahan Jaka akhirnya runtuh. Apalagi selama ini ia memang cukup tergoda dengan kecantikan dan keindahan tubuh istri Pak Kades ini. Dengan gerakan cepat, Jaka meraih tengkuk wanita itu dan langsung membalas ciuman bibirnya. “Eumh!” Suara kecapan liur beradu di ruang tamu, menciptakan harmoni nada yang selama ini hilang di dalam rumah tersebut. Jaka yang sudah terangsang hebat langsung beraksi, ia yang sedari tadi diam akhirnya menunjukkan taringnya. Tangannya mulai meremas dua bukit kembar Bu Lilis dari balik dasternya. “Ugh!” Wanita itu melenguh, melengkungkan badannya merasakan tangan kekar Jaka meremas kuat dua aset berharganya. Hasrat yang sudah di ubun-ubun , membuat Jaka tidak peduli di mana mereka berada kini. Ia langsung membaringkan tubuh Bu Lilis di atas sofa dan mulai menindihnya. Wajah Bu Lilis memerah, saat melihat tatapan Jaka uang cukup bernafsu kepadanya. Ia pun tak kalah terangsangnya, lengan kekar Jaka, garis rahangnya yang tegas, membuat wanita itu benar-benar ingin di belai dan dipuaskan oleh lelaki yang selama ini hanya ia anggap pemulung biasa. Bu Lilis sendiri juga heran, kenapa tiba-tiba ia begitu mendambakan Jaka, sejak tadi pagi ia selalu teringat pemuda itu dan sangat ingin dibelai olehnya. Jaka yang sudah bergairah hebat, tanpa pikir panjang kembali melumat bibir ranum Bu Lilis, menghisap dan memainkan lidahnya di dalam mulut mungil wanita itu. Bu Lilis juga tak mau kalah, ia mengangkat kakinya hingga membuat daster itu tersibak—memperlihatkan pahanya yang putih mulus menggoda. Ia melingkarkan kakinya di pinggang Jaka menekan pinggul pria itu semakin dalam, hingga gundukan Jaka terasa menekan area selangkangannya. Bu Lilis benar-benar kehilangan kendali, ia seakan lupa jika ia adalah wanita yang sudah bersuami. Pak Kades yang tidak bisa memberikan kepuasan baginya selama ini menjadi alasan Bu Lilis mencari kepuasan pada Jaka, yang ia anggap perkasa dan bisa memuaskan hasratnya yang selama bertahun-tahun terpendam. “Shh! Ahh! Terus Jaka,” desah Bu Lilis saat Jaka mulai mencumbu lehernya, memainkan lidahnya di kulit putih mulus wanita itu. Perlahan namun pasti, cumbuan Jaka semakin turun ke bawah, hingga kini ia melihat belahan dua aset Bu Lilis yang seolah menantang untuk di taklukkan. Jaka berhenti sejenak, menatap Bu Lilis penuh nafsu gairah. Wanita itu tersipu malu, pipinya merah merona. Lalu ia mengangguk pelan, memberikan lampu hijau kepada Jaka agar melakukan lebih. Jaka ikut tersenyum. “Ini namanya rejeki nomplok,” batinnya kegirangan. Bagaimana tidak, kontrakannya yang menunggak dua bulan lunas, dan Jaka juga mendapat bonus bisa menikmati tubuh indah Bu Lilis yang selama ini cukup membuatnya tergoda. Tanpa pikir panjang, ia langsung menurunkan tali daster Bu Lilis hingga batas perut, hanya menyisakan bra renda hitam yang tampak kekecilan tidak mampu menampung dua aset besar miliknya. "Cepat Jaka! Tunggu apa lagi?! Milikku sudah basah..."

More GoodNovel Novels