Presdir Cuek Dicampakkan Istri: Menceraikan Suami, Mempertahankan Anak

GoodNovel Selesai

Gladys menyimpan dua rahasia terbesar dalam hidupnya. Rahasia pertama, Keluarga Ruswandi sama sekali tidak menerima dirinya sebagai menantu, bahkan seluruh keluarga diam-diam menipu Marshel untuk menandatangani surat perjanjian perceraian sebelum menikah. Pernikahan mereka ... hanya bisa bertahan tujuh tahun. Rahasia kedua, Gladys diam-diam melahirkan seorang putri tanpa diketahui Marshel. Selama tujuh tahun pernikahan, Marshel sama sekali tidak tahu bahwa dirinya sudah memiliki seorang anak perempuan berusia lima tahun. Gladys pernah percaya, asal dia mencintai sepenuh hati dan terus bertahan, suatu hari hati dingin Marshel pasti akan luluh. Namun, tiga bulan sebelum surat perjanjian perceraian itu resmi berlaku, dia baru menyadari kenyataan paling menyakitkan, rahasia suaminya. Ternyata pria yang menjadi suaminya selama tujuh tahun menyimpan cinta lain di dalam hatinya. Wanita itu ... adalah tunangan adik sepupunya sendiri. Tujuh tahun pengorbanannya seolah-olah berubah menjadi lelucon paling memalukan. Hati Gladys benar-benar hancur. Dia memutuskan untuk tidak pernah memberi tahu Marshel tentang keberadaan anak mereka. Bercerai dengan tegas, meninggalkan suami, mempertahankan anak! Dia menganggap Marshel tak lebih dari "alat donor benih"! Namun siapa sangka, wanita yang dulu diremehkan sebagai ibu rumah tangga tak berguna itu akhirnya kembali ke puncak kejayaannya dan menjadi peraih penghargaan medis termuda. Saat itu, pria yang selalu bersikap cuek itu baru menyadari bahwa Gladys sejak awal benar-benar ingin meninggalkannya dan sudah lama tidak lagi menginginkannya. Ketika keberadaan putri mereka akhirnya terbongkar ke publik, pria dingin dan tak berperasaan itu akhirnya kehilangan kendali. Di depan banyak orang, dia menahan Gladys sambil menggertakkan gigi dan bertanya, "Cerai? Kamu meninggalkan suamimu dan mempertahankan anak saja? Istriku, kamu mau membunuhku?" Gladys hanya tersenyum tipis sambil menggenggam tangan putrinya. "Pak Marshel, dengarkan baik-baik, marga putriku Darmawan, bukan Ruswandi."

Bab (1)

第1章

Gladys menyimpan dua rahasia terbesar dalam hidupnya. Rahasia pertama, Keluarga Ruswandi sama sekali tidak menerima dirinya sebagai menantu, bahkan seluruh keluarga diam-diam menipu Marshel untuk menandatangani surat perjanjian perceraian sebelum menikah. Pernikahan mereka ... hanya bisa bertahan tujuh tahun. Rahasia kedua, Gladys diam-diam melahirkan seorang putri tanpa diketahui Marshel. Selama tujuh tahun pernikahan, Marshel sama sekali tidak tahu bahwa dirinya sudah memiliki seorang anak perempuan berusia lima tahun. Gladys pernah percaya, asal dia mencintai sepenuh hati dan terus bertahan, suatu hari hati dingin Marshel pasti akan luluh. Namun, tiga bulan sebelum surat perjanjian perceraian itu resmi berlaku, dia baru menyadari kenyataan paling menyakitkan, rahasia suaminya. Ternyata pria yang menjadi suaminya selama tujuh tahun menyimpan cinta lain di dalam hatinya. Wanita itu ... adalah tunangan adik sepupunya sendiri. Tujuh tahun pengorbanannya seolah-olah berubah menjadi lelucon paling memalukan. Hati Gladys benar-benar hancur. Dia memutuskan untuk tidak pernah memberi tahu Marshel tentang keberadaan anak mereka. Bercerai dengan tegas, meninggalkan suami, mempertahankan anak! Dia menganggap Marshel tak lebih dari "alat donor benih"! Namun siapa sangka, wanita yang dulu diremehkan sebagai ibu rumah tangga tak berguna itu akhirnya kembali ke puncak kejayaannya dan menjadi peraih penghargaan medis termuda. Saat itu, pria yang selalu bersikap cuek itu baru menyadari bahwa Gladys sejak awal benar-benar ingin meninggalkannya dan sudah lama tidak lagi menginginkannya. Ketika keberadaan putri mereka akhirnya terbongkar ke publik, pria dingin dan tak berperasaan itu akhirnya kehilangan kendali. Di depan banyak orang, dia menahan Gladys sambil menggertakkan gigi dan bertanya, "Cerai? Kamu meninggalkan suamimu dan mempertahankan anak saja? Istriku, kamu mau membunuhku?" Gladys hanya tersenyum tipis sambil menggenggam tangan putrinya. "Pak Marshel, dengarkan baik-baik, marga putriku Darmawan, bukan Ruswandi." Bab 1 Selama tujuh tahun pernikahannya, Gladys diam-diam melahirkan seorang anak. Tahun ini, anak itu sudah berusia lima tahun. Namun, suaminya tidak tahu apa-apa. Dia tidak pernah memberi kesempatan kepada Marshel untuk menjadi seorang ayah. Di sela waktu istirahat sif malam, Gladys mendengarkan pesan suara yang lembut dan polos, yang dikirim putrinya. Putri yang diam-diam dia besarkan di provinsi tetangga. "Mama, kenapa aku belum pernah bertemu Papa? Dia sudah meninggal ya?" Gladys memikirkan pertanyaan anaknya dengan serius. Belum mati, tetapi bisa dianggap begitu. Belakangan ini, Keisha mulai punya pikiran sendiri. Di kepala mungilnya perlahan muncul satu kegelisahan. Misalnya, dia belum pernah melihat ayah kandungnya. Rasa penasaran itu semakin tumbuh hari demi hari. Sampai-sampai Gladys mempertimbangkan dengan matang, haruskah dia mencoba jujur kepada Marshel bahwa sebenarnya mereka punya seorang anak berusia lima tahun? Toh pria itu juga mendapat keuntungan, bisa langsung melewati masa sulit mengurus bayi dan menjadi ayah tanpa perjuangan. Setelah keluar dari ruang obrolannya dengan Keisha, Gladys menghitung waktu. Hubungannya dengan Marshel ... sepertinya hanya tersisa tiga bulan lagi .... Setelah menimbang kata-katanya, Gladys mengetik sebuah pesan di ruang obrolannya dengan suaminya, Marshel, yang hampir tidak memiliki riwayat percakapan. [ Kalau ... kita punya anak, kamu .... ] Belum sempat terkirim, pintu tiba-tiba didorong hingga terbuka dengan tergesa-gesa. Seorang perawat buru-buru berkata, "Kak Gladys, ada pasien di IGD. Diduga hamil muda, tapi berhubungan intim terlalu kasar, kemungkinan menyebabkan korpus luteum pecah!" Gladys langsung mematikan layar ponselnya. Dia segera berdiri dan berjalan cepat mengikuti perawat itu sambil mengernyit. "Mereka kira ini main-main? Hamil muda nggak boleh berhubungan intim! Masa nggak bisa menahan diri sedikit ...." Namun, saat tirai ranjang pasien dibuka dan dia melihat wanita yang terbaring di atasnya, komentarnya langsung terhenti. Setelah terdiam dua detik, dia memanggil dengan nada terkejut, "Ingrid?" Ternyata itu adalah ... calon adik ipar suaminya? Saat melihat Gladys, Ingrid juga tampak terpaku sesaat, tetapi tidak menjawab. Gladys refleks mengamati kondisi wanita itu. Ingrid adalah tunangan adik sepupu suaminya. Namun, lima bulan lalu pria itu dipenjara karena masalah pembukuan perusahaan dan dijatuhi hukuman 1,5 tahun. Perut Ingrid masih rata dan belum tampak hamil. Kalaupun benar hamil, usia kandungannya pasti masih sangat muda. Lantas, anak yang usia kandungannya tidak cocok itu berasal dari mana .... Namun, Gladys bukan tipe orang yang suka mencampuri privasi orang lain. Dengan cekatan, dia mengambil sarung tangan medis. "Berbaring dulu. Aku periksa kondisi dasarmu dulu." Tiba-tiba, Ingrid duduk tegak. Dia tampak tidak senang dengan kemunculan Gladys. "Nggak perlu. Aku mau pindah rumah sakit." Perawat muda itu langsung menatap Gladys dengan serbasalah. Gladys berkata dengan nada tidak setuju, "Kalau nggak mau tubuhmu bermasalah, berbaringlah dulu. Aku bisa bantu pemeriksaan awal." Ingrid mengerutkan kening. Dia tidak suka sikap Gladys yang tampak angkuh dan menjaga jarak itu. Gladys tidak membuang waktu. Sebagai dokter, dia tidak bisa menunda kondisi pasien. Dia membungkuk dan hendak mengangkat ujung pakaian Ingrid. Namun, Ingrid malah menyunggingkan senyuman sinis dan menepis tangannya. Plak! Suara pukulan itu terdengar nyaring. Tenaganya tidak ringan, jadi lumayan sakit. Gladys menunduk melihat punggung tangannya yang sudah memerah. Sebelum dia sempat bereaksi, dia mendengar suara Ingrid tiba-tiba melunak dan memanggil ke arah belakangnya. "Shel ...." Nama yang begitu familier membuat Gladys bahkan lupa pada rasa sakit di tangannya. Dia menoleh. Langkah pria itu mantap dan tegas. Mantel panjangnya tersampir di lengan, sosoknya yang tinggi dan berkarisma sulit diabaikan. Saat dia melangkah mendekat, pandangannya sedikit bergeser dan bertemu dengan mata Gladys. Namun, hanya sesaat. Langkahnya tak berhenti, tatapannya pun berpaling dengan dingin. Seolah-olah mereka adalah orang asing, dia melewati Gladys dan berjalan ke sisi lain ranjang pasien. Suaranya rendah dan berat, terselip sedikit kekhawatiran. "Kamu nggak apa-apa?" Gladys benar-benar tidak menyangka. Anggota keluarga yang datang mendampingi Ingrid ternyata adalah suaminya sendiri yang sudah tujuh tahun menikah dengannya secara diam-diam! Saat melihat perhatian Marshel tertuju pada Ingrid, Gladys bahkan sempat berpikir, 'Apa Marshel melihat pukulan keras Ingrid tadi?' Saat Marshel menunjukkan perhatian kepadanya, Ingrid melirik Gladys yang berdiri kaku. Dia mendongak pada pria yang mengkhawatirkannya itu, suaranya menjadi manja dan lembut seperti ditunjukkan pada seorang kekasih. "Kamu juga tahu, aku ke rumah sakit karena perutku sakit." Kalimat itu langsung membuat para staf di sekitar memahami situasinya. Bukankah itu sama saja dengan menjelaskan bahwa pemeran pria dari hubungan panas itu adalah pria di depan mereka? Marshel tidak menyangkal ataupun memberi penjelasan kepada orang lain. Gladys menatap pemandangan itu hingga hampir lupa bereaksi. Dia hanya bisa menyaksikan suaminya menunjukkan perhatian dan toleransi sebesar itu kepada ... calon adik iparnya sendiri. Meskipun Marshel selalu bersikap misterius dan emosinya sulit dibaca, naluri seorang wanita tetap bisa merasakan keanehan situasi ini. Terlebih lagi, alasan Ingrid masuk IGD yang begitu memalukan dan suaminya ternyata tahu semuanya! Baru pada saat inilah tubuh Gladys terasa dingin. Dulu dia selalu berpikir sikap dingin Marshel hanyalah sifat bawaan, bukan karena dia tidak bisa mencintai. Sekarang dia mengerti, ternyata di hatinya sudah ada orang lain. Namun, situasi dan hubungan mereka saat ini terasa begitu konyol sampai membuatnya ingin tertawa. Orang bodoh pun tahu, dengan siapa sebenarnya hubungan panas malam ini terjadi. Melihat Gladys terdiam lama, pandangan Marshel perlahan tertuju padanya. Tatapan itu seperti duri beracun yang membuat Gladys seketika tersadar. Tangannya yang mengenakan sarung tangan medis dan semula hendak memeriksa pasien, kini samar-samar gemetar. Seolah-olah pukulan Ingrid tadi baru menunjukkan efeknya, membuat otaknya kekurangan oksigen sesaat. Bukti perselingkuhannya sudah sejelas ini, apa dia masih perlu mempermalukan diri sendiri dengan memastikannya lagi? Ingrid menyadari sikap Marshel yang memperlakukan Gladys seperti orang asing, lalu samar-samar tersenyum. Dia berkata lebih dulu, "Shel, aku mau pindah rumah sakit. Antar aku ke rumah sakit yang lebih besar ya." "Oke." Marshel tidak ragu sedikit pun, seolah-olah permintaan apa pun dari Ingrid pasti akan dia penuhi. Di antara mereka berdua, jelas ada keintiman yang tidak bisa diganggu orang lain. Sebagai seorang istri yang pernah sangat mencintai pria di depannya ini, bagaimana mungkin Gladys tidak merasakannya? Sakitnya begitu menusuk hingga dadanya terasa tercabik-cabik. Soal ucapan Ingrid tentang "rumah sakit yang lebih besar", tak lain adalah sindiran yang terang-terangan bahwa Gladys tidak cukup pantas menangani dirinya. Marshel pun mengatur semuanya dengan tenang dan rapi. Dari awal sampai akhir, dia tidak mengatakan sepatah kata pun lagi kepada Gladys, bahkan tanpa sedikit pun ... rasa malu! Sampai keduanya meninggalkan ruang pemeriksaan, Gladys masih tidak bisa keluar dari situasi konyol itu. Sementara rekan-rekan kerja yang menyaksikan semuanya langsung ramai bergosip, "Ya ampun! Anak muda zaman sekarang benar-benar liar!" Perawat muda itu tampak iri. "Tapi cowok tadi memang ganteng banget sampai bikin kaki lemas. Kelihatannya urusan begituan juga benar-benar hebat!" Gladys menunduk, pikirannya melayang. Dia melepas sarung tangan medisnya perlahan. "Oh ya?" Perawat muda itu tidak menyadari keanehannya, malah teringat sesuatu dan mendekat sambil berbisik, "Ngomong-ngomong, Kak Gladys juga sudah nikah bertahun-tahun, 'kan? Kok nggak pernah dengar soal anak?" Gladys membuang sarung tangan itu ke tempat sampah. "Suamiku mengalami disfungsi ereksi, masih dalam pengobatan." Bab 2 Perawat muda itu langsung terdiam, wajahnya penuh rasa canggung. Dia tidak menyangka Gladys bisa begitu tenang saat membongkar aib suaminya sendiri. Namun, sepertinya itu memang benar. Kalau tidak, mana mungkin ada pasangan yang sudah menikah tujuh tahun tetapi belum punya anak? Akibatnya, tatapannya pada Gladys semakin dipenuhi rasa iba. Gladys tidak mengatakan yang sebenarnya. Faktanya, Marshel memang tidak ingin dia melahirkan anaknya. Sejak malam pertama mereka, pria itu sudah berkata dengan dingin kepadanya, "Kerjaanku sangat sibuk. Aku nggak punya waktu ngurus anak, jadi aku memang nggak berniat punya anak. Jangan berharap dan jangan mencoba berdiskusi soal ini denganku." Saat itu, dia memahami Marshel. Dia merasa pria itu memang sibuk. Namun, sekarang ... dia akhirnya mengerti alasan Marshel tidak ingin punya anak. Karena dia takut jika anak itu lahir, wanita yang dia cintai akan merasa terganggu. Lucunya, belum lama ini dia malah ingin jujur pada Marshel bahwa mereka punya seorang putri! Suara langkah kaki kembali terdengar. Begitu mendongak, Gladys langsung berhadapan dengan tatapan Marshel yang sulit ditebak. Pria itu membawa bukti pembayaran administrasi. Tatapannya pada Gladys bahkan lebih dingin daripada kepada orang asing. Jangan-jangan ucapan fitnahnya soal disfungsi ereksi tadi didengar Marshel? Namun, setelah dipikir-pikir lagi, memangnya kenapa kalau pria itu dengar? Dia sudah tidak peduli lagi. Marshel segera menarik kembali pandangannya dan pergi tanpa ekspresi. Gladys tidak merasa aneh. Toh memang selalu seperti itu. Ketidaksabarannya pada Gladys, ketidakpeduliannya, kemalasannya untuk menghabiskan energi demi dirinya, tak pernah sekali pun dia sembunyikan. Bahkan jika Gladys ingin bertengkar, pertengkaran itu sulit terjadi. Semua emosi itu hanya akan tertahan di dalam dadanya, hari demi hari, tanpa tempat untuk meluapkannya. Walaupun punya suami, dia tidak pernah punya tempat bersandar, juga tidak punya penopang batin. Itulah salah satu alasan kenapa dia dulu diam-diam melahirkan putrinya dan membesarkannya tanpa sepengetahuan Marshel. Dengan langkah berat, Gladys kembali ke ruang praktiknya. Dia membuka laci meja kerjanya. Di dalamnya, dua tumpuk dokumen tersimpan rapi. Dulu sebelum resmi menikah dengan Marshel, ayah Marshel lebih dulu menemuinya dan memberinya dua surat perjanjian. Yang satu adalah perjanjian pranikah, dan satunya lagi adalah perjanjian perceraian. Latar belakang keluarganya memang sangat jauh jika dibandingkan dengan keluarga Marshel, Keluarga Ruswandi. Perbedaannya dengan Marshel benar-benar seperti langit dan bumi. Kalau bukan karena kejadian tahun itu, Keluarga Ruswandi tidak mungkin mengizinkannya masuk ke keluarga mereka. Kakek tua itu pun selalu meremehkannya. Di surat perjanjian perceraian itu tertulis batas waktu tujuh tahun. Begitu tujuh tahun berlalu, perjanjian perceraian itu ... otomatis berlaku. Saat itu Marshel bahkan tidak membaca isi perjanjiannya. Dia langsung menandatangani tanpa ragu dan mungkin sampai sekarang pun tidak tahu keberadaan surat perjanjian perceraian itu. Sekarang, waktu menuju hari perceraian sesuai perjanjian ... tinggal tiga bulan lagi. Gladys bahkan tidak ingin membuang satu detik lagi. Dengan cepat, dia memasukkan dokumen itu ke dalam tas. Setelah menyelesaikan pekerjaannya hari itu sambil menahan rasa lelah, dia pun kembali ke rumah mereka. Baru selesai mengganti sepatu, dia langsung melihat Marshel turun dari lantai atas. Gladys berdiri diam di tempat. Dia juga tidak melihat tanda-tanda Marshel ingin bicara dengannya ataupun menjelaskan soal kejadian di IGD tadi. Saat pria itu melewatinya, akhirnya Gladys bersuara, "Kita cerai saja. Aku kasih kamu waktu tiga bulan buat ngurus pembagian dan pemindahan harta." Baru saat itulah langkah Marshel berhenti. Jari panjangnya yang sedang mengancingkan manset batu permata itu terdiam sesaat. Mata hitamnya yang dingin dan tajam menatap Gladys dari atas sampai bawah. "Cuma karena hari ini aku menemani Ingrid berobat?" Bagus sekali kata "cuma" itu. Jadi dia juga tahu bahwa Gladys akan mempermasalahkan hal itu, hanya saja sengaja tidak mau membahasnya. Gladys membalas tatapannya tanpa gentar, suaranya ringan. "Ya." Soal benar atau salah, dia malas berdebat. Soal anak mereka, jangan harap Marshel bisa tahu sedikit pun. Mata hitam Marshel nyaris terlihat tanpa emosi. Dia juga tidak peduli apakah Gladys merajuk atau tidak. "Di rumah kamu boleh melampiaskan emosimu sesuka hati. Tapi di luar, sebagai Nyonya Ruswandi, kamu tahu apa yang harus dilakukan." Ucapan itu jelas-jelas hanya demi menjaga citra elegan Ingrid di depan orang lain. Dia sama sekali tidak peduli pada perasaan Gladys. Gladys akhirnya sadar. Kenapa memangnya kalau dia memergoki mereka berdua dalam situasi seintim itu? Marshel sama sekali tidak merasa perlu memberi penjelasan apa pun kepada dirinya sebagai seorang istri. "Tenang saja." Gladys tanpa sadar mengepalkan tangan sendiri. Rasa sakit itu membuat nadanya kembali tenang. "Kalau sudah cerai, semuanya juga bukan urusanku lagi." Mungkin Marshel agak terkejut. Pria itu lantas memandang istrinya yang selama ini selalu menurut padanya, tetapi kini seolah-olah mulai menunjukkan sisi pemberontak. Meskipun begitu, tetap tidak ada riak emosi di matanya. "Aku nggak punya waktu untuk meladeni emosimu. Kalau memang keberatan, kamu bisa cari pengacara sendiri untuk menyusun perjanjiannya." Selama tujuh tahun pernikahan, jangankan cinta, bahkan keberadaan Gladys di sisinya pun seolah tak pernah berarti apa-apa. Persetujuannya untuk bercerai dilontarkan tanpa sedikit pun keraguan. Gladys tidak membuang-buang waktu. Dengan tekad bulat, dia melewati tubuh tinggi pria itu dan langsung ke lantai atas untuk membereskan barang-barang pribadinya. Mata dingin Marshel sedikit menyipit, mengikuti punggung Gladys yang kurus dan menjauh. Namun, hanya dua detik kemudian, dia sudah bisa menebak maksud Gladys. Reaksi Gladys yang kali ini terlihat sedikit lebih keras sama sekali tidak dia masukkan ke dalam hati. Dulu, Gladys juga bukan sekali dua kali melakukan hal seperti ini demi menarik perhatiannya. Dia juga tidak pernah repot-repot menanggapinya. Karena pada akhirnya, Gladys akan selalu mengalah lebih dulu padanya. Begitu tidak mendapat respons, wanita itu akan berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan menenangkan dirinya sendiri. Bahkan, biasanya tidak perlu sampai beberapa hari. Jadi, emosi Gladys memang tidak terlalu berarti baginya. Marshel menarik kembali pandangannya dengan datar. Dia mengambil mantel, lalu keluar rumah lagi tanpa menoleh. Setelah kembali ke kamar, Gladys memandang rumah yang selama tujuh tahun ini dia tata dengan sepenuh hati. Untuk sesaat, dia bahkan tidak tahu harus mulai membereskan dari mana. Pada saat itu, ponselnya berbunyi. Begitu melihat gambar kartun yang muncul, sorot matanya langsung melembut. Dia membuka pesan suara itu. Dari speaker terdengar lagi suara polos anak kecil. "Mama, bulan depan aku akan pergi ke ibu kota buat cari Mama! Kita bisa terus bersama lagi!" Mata Gladys tiba-tiba terasa panas. Dia buru-buru mendongak menahan air matanya. Untungnya, dia masih punya harta kecilnya. Untungnya, dia tidak pernah memberi tahu Marshel soal keberadaan anak mereka. Di saat yang sama, telepon dari Febby masuk. Nadanya terdengar bersemangat sekaligus khawatir. "Anak kita mau datang?" "Bulan depan." Febby mendecak, lalu tiba-tiba berkata, "Bukannya Marshel mandul? Kalau dia tahu kamu diam-diam lahirin seorang anak perempuan, bahkan hanya berniat mempertahankan anak dan mencampakkan ayahnya, dia bakal gila nggak?" Gladys hanya tersenyum tipis, penuh ejekan pada dirinya sendiri. "Nggak bakal." Marshel bahkan tidak peduli padanya, mana mungkin dia peduli soal hal seperti itu? Dia bahkan bisa melakukan hal memalukan seperti berhubungan liar dengan calon adik iparnya sendiri saat wanita itu masih hamil muda. Mau dia peduli pada anak itu atau tidak, dia sudah tidak pantas menjadi seorang ayah! Soal rumor mandul itu .... Pandangan Gladys sempat kosong sesaat. Sebenarnya di tahun pertama pernikahan mereka, karena Marshel selalu melakukan pencegahan dengan sangat baik, dia tidak pernah hamil. Sampai suatu hari, dia tanpa sengaja mendengar obrolan para pelayan. Mereka bilang, kemungkinan besar Marshel tidak bisa punya keturunan. Sebelumnya Keluarga Ruswandi terus ingin menjodohkan Marshel dengan gadis dari keluarga terpandang, tetapi Marshel selalu menolak, bahkan terang-terangan mengatakan dirinya tidak akan punya anak. Lama-kelamaan, rumor bahwa pewaris Keluarga Ruswandi akan putus keturunan mulai menyebar. Ditambah lagi, selama tujuh tahun pernikahan, mereka memang tampaknya tidak punya anak sehingga di mata orang luar rumor itu semakin terasa benar. Beberapa tahun lalu, Gladys memang memercayainya. Dia bahkan merasa tidak masalah. Selama kehidupan mereka baik-baik saja, anak hanyalah pelengkap kebahagiaan. Namun, selama bersama dirinya, Marshel selalu menggunakan pengaman. Kemampuan pria itu dalam urusan ranjang sebenarnya selalu sangat bagus. Meskipun hubungan mereka tidak harmonis, Gladys tidak bisa menyangkal hal itu. Namun belakangan, Marshel selalu menghindari topik soal anak. Sampai Gladys sendiri mulai benar-benar percaya pada rumor tersebut. Sampai hari itu .... Bab 3 Setelah menikah, hubungan mereka sebagai suami istri sebenarnya tidak harmonis sejak awal. Marshel sangat jarang pulang ke rumah. Dalam sebulan, bisa dua kali berhubungan suami istri saja sudah bisa dianggap sebagai hal yang istimewa. Apalagi komunikasi sehari-hari. Namun, pada akhir tahun pertama pernikahan mereka, Marshel harus pergi ke cabang perusahaan di Andrika demi membangun fondasi untuk mengambil alih kekuasaan keluarga secara bertahap. Malam sebelum berangkat ke Andrika, Marshel pulang dalam keadaan mabuk setelah jamuan bisnis dan untuk pertama kalinya lupa memakai pengaman. Malam itu, dia begitu liar. Untuk pertama kalinya Gladys tahu, ternyata saat mabuk dan tidak sadar siapa dirinya, Marshel tidak sedingin dan sepasif biasanya. Dua bulan setelah Marshel pergi, Gladys mengetahui dirinya hamil. Dia bisa memeriksa denyut nadinya sendiri dan dia sangat terkejut. Saat itu, dia bahkan sempat berpikir dengan naif, kalau selama ini Marshel memang mengira dirinya mandul, apa kehamilannya bisa menjadi penengah hubungan mereka sebagai suami istri? Karena itu, dia memilih untuk mencoba mengujinya terlebih dahulu. Dia langsung terbang ke Nuyark. Saat itu, dengan hati penuh sukacita dan harapan, dia pergi ke perusahaan Marshel. Di tengah angin dingin yang menusuk, dia menunggu selama dua jam. Marshel tampak sangat terkejut dengan kedatangannya. Dia tidak memperkenalkan identitas Gladys kepada siapa pun, hanya menyuruh asistennya mengantarnya ke tempat tinggalnya. Saat itu Gladys masih penuh semangat dan cinta, sehingga tidak menyadari sikap dingin Marshel yang sengaja menjaga jarak dengannya di depan orang lain. Malam harinya setelah mandi, pria itu bahkan tidak bertanya apakah perjalanan jauhnya melelahkan atau tidak. Dia membungkuk mencium daun telinganya, tetapi di dalam matanya hanya ada ketidakpedulian seperti menjalankan kewajiban semata. Seolah-olah Gladys datang jauh-jauh hanya untuk meminta disentuh olehnya. Gladys merasa tidak nyaman. Dia mendorong pria itu dengan perlahan, menahan debaran di dalam dadanya sambil bertanya dengan gugup, "Kalau aku punya anak ... apa hubungan kita akan ...." Ucapan itu tampaknya langsung menghancurkan sedikit minat yang dimiliki Marshel. Tanpa ragu, pria itu menjauh, lalu membalikkan badan dan berbaring di sampingnya sambil memejamkan mata. Dia tetap menjaga jarak meski tidur di ranjang yang sama. "Kalau kamu berpikir seorang anak bisa menjadi penyangga pernikahan kita, aku sarankan jangan berharap terlalu banyak." Nada bicaranya tetap tenang dan datar, tetapi juga kejam dan terus terang. Di baliknya hanya ada ketidakpedulian yang menusuk tulang. Malam itu, Gladys tidak tidur. Dia ingin menangis, tetapi juga merasa semua ini salahnya sendiri. Keesokan harinya, Marshel bahkan seperti mengusirnya. Dia memesankan tiket pesawat dan menyuruh orang mengatur kepulangannya ke tanah air, tidak ingin Gladys tinggal lebih lama walau hanya semenit pun. Sedih, kecewa .... Ditambah adanya surat perjanjian perceraian tujuh tahun itu, Gladys sadar bahwa akhir hubungan mereka sebenarnya sudah ditentukan sejak awal. Karena itu pula, dia segera mengambil keputusan. Entah Marshel benar-benar tidak peduli pada anak atau memang yakin dirinya mandul, Gladys memutuskan tidak akan memberitahunya sedikit pun. Anak dalam kandungannya adalah darah dagingnya, penerus garis keturunannya, tidak ada hubungannya dengan Marshel! Dia tidak akan membiarkan sikap pria itu menyakiti tubuhnya sendiri maupun anaknya! Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, mempertahankan anak dan mencampakkan sang ayah memang keputusan paling nekat, gila, sekaligus paling benar yang pernah dia buat! Gladys bermarga Haryono, sedangkan Keisha bermarga Darmawan, sama seperti sahabatnya, Febby. Namun, Keisha sebenarnya tidak masuk ke kartu keluarga sahabatnya itu. Marga Darmawan itu bukan berasal dari Febby, melainkan dari kakak sepupu Febby yang kelak akan menjadi pewaris keluarga .... Gladys teringat pria yang bersedia membantunya dan membiarkan anak itu terdaftar atas namanya. Dia menggeleng, lalu melihat ruang obrolannya dengan Keisha. Tak seorang pun di Keluarga Ruswandi mengetahui hal ini. Sekarang, putrinya adalah satu-satunya harta perceraian miliknya. Toh Marshel memang suami yang tidak becus. Kalau begitu, untuk apa dia bersikap perhitungan terhadap "donor benih" seperti Marshel? .... Setelah Gladys mengaku pada Febby bahwa dirinya akan bercerai, Febby terdiam selama beberapa detik. Bagaimanapun, dialah orang yang paling tahu seberapa besar cinta Gladys pada Marshel. Dari usia belasan tahun sampai sekarang, sudah lebih dari sepuluh tahun. Rasa sakit itu seperti menguliti manusia hidup-hidup, tetapi nada suara Gladys sekarang justru sangat tenang. Tenang karena sudah terlalu sering terluka sampai mati rasa. Febby pun merasa keputusan Gladys untuk tidak memberi tahu Marshel bahwa dia punya seorang putri yang sudah masuk taman kanak-kanak memang pantas diterima pria itu! Itu hukuman untuknya! Namun, Febby juga tahu seberapa besar penderitaan Gladys, jadi dia langsung mendukung. "Cowok itu kayak tisu bekas cebok. Nggak ada gunanya, malah bikin jijik. Dasarnya memang murahan! Sampah ya harusnya tinggal di tempat sampah!" Setelah panggilan berakhir, Gladys terus membereskan barang-barang pribadinya tanpa berhenti sedetik pun. Tujuh tahun menjadi nyonya keluarga kaya raya, tetapi pada akhirnya barang-barangnya hanya memenuhi dua koper. Dia menunduk melihat cincin berlian di jari manisnya. Jemarinya mengusapnya perlahan. Cincin itu sudah dipakai bertahun-tahun, terlihat begitu halus dan hangat di kulitnya, tetapi sekarang rasanya seperti ada pisau yang mengiris. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia tetap melepaskannya tanpa ragu dan memasukkannya ke map surat perjanjian perceraian. Memanfaatkan malam yang sunyi, dia memasukkan koper-kopernya ke mobil. Karena hari sudah terlalu larut, setelah pulang, dia langsung tidur tanpa sempat berganti pakaian. Keesokan harinya, Gladys terbangun karena suara ribut dari bawah seperti orang sedang memindahkan barang. Dia hanya tidur tiga jam. Kebisingan itu terasa seperti ada orang yang mengebor telinganya. Menahan rasa tidak nyaman, Gladys selesai mandi dan bersiap-siap, lalu meletakkan map berisi surat perjanjian perceraian tepat di tengah meja rias yang kini sudah kosong melompong. Dia ingin memastikan Marshel langsung melihat kejutan yang selama ini dia tunggu begitu masuk ke kamar. Setelah itu, dia berjalan keluar. Semalam, Febby sudah membantunya mencarikan apartemen. Mengingat nantinya Keisha akan tinggal bersamanya, Febby sengaja memilih apartemen tiga kamar. Sebentar lagi, dia tinggal memindahkan koper ke sana. Saat berjalan ke tangga, Gladys melihat seorang remaja laki-laki usia 12 atau 13 tahun sedang berdiri di ruang tamu sambil memerintah para pekerja. Begitu melihatnya, remaja itu langsung berbicara dengan suara parau khas masa pubertas, "Cepat beresin barang-barangmu dan kosongin tempat ini! Kakak iparku nanti bakal pindah ke sini. Jangan kotori tempatnya!" Anak itu kasar dan tidak sopan. Dia adalah adik Marshel, Ervan. Dimanja sampai tidak tahu batas, sama sekali tidak mirip dengan Marshel. Selama ini Ervan tidak pernah memanggil Gladys sebagai kakak ipar. Namun sekarang, nada bicaranya justru penuh pembelaan terhadap wanita lain. Gladys memandangnya dari atas tangga, bertanya dengan nada dingin, "Siapa?" "Tentu saja Ingrid! Dia itu wanita hebat yang benar-benar pantas buat kakakku! Kamu numpang di rumah kakakku bertahun-tahun, selain jadi pembantu memangnya bisa apa lagi?" Ervan berkacak pinggang, wajah mudanya penuh penghinaan. Gladys melirik barang-barang yang baru dipindahkan ke ruang tamu. Meja rias baru, sofa baru, cermin baru. Semuanya sangat sesuai dengan gaya Ingrid. "Siapa yang kasih izin?" tanya Gladys dengan ekspresi dingin. Ervan bahkan sempat terkejut melihat ekspresi Gladys yang sedingin itu. Karena malu sekaligus kesal, dia langsung membalas dengan keras, "Tentu saja kakakku! Memangnya siapa lagi?" "Dia sudah nggak mau sama kamu! Dia merasa jijik sama kamu! Wanita bekas pakai! Kalau tahu diri, cepat minggir dan kosongin tempat!" Bibir Gladys menegang. Dadanya terasa seperti dihantam benda tumpul dengan keras, membuat otaknya kosong selama beberapa detik. Dia tidak menyangka Marshel sudah begitu tidak sabar ingin mengosongkan tempat untuk wanita yang dicintainya. Padahal baru kemarin dia memergoki pria itu melakukan hal memalukan dengan Ingrid yang sedang mengandung, hari ini semuanya sudah dilakukan terang-terangan seperti ini. Apa dia sedang menyiapkan rumah pernikahan mereka untuk menyambut nyonya rumah yang baru? Bab 4 Kini, Marshel membiarkan barang-barang Ingrid dipindahkan masuk tanpa berusaha menutupinya sedikit pun. Pria itu seperti ingin semua orang melihat betapa menyedihkan dan gagalnya dirinya sebagai Nyonya Ruswandi. Meskipun dia ingin bercerai dengan Marshel, meskipun Marshel sudah tidak sabar ingin memberi status kepada Ingrid, Gladys tetap tidak akan membiarkan dirinya dihina seperti ini sebelum akta pernikahan mereka resmi dinyatakan tidak berlaku! Gladys mendekat selangkah demi selangkah, lalu menatap para pekerja itu dengan tenang sambil menunjuk barang-barang yang dipindahkan masuk satu per satu. "Semua furnitur ini mahal. Aku kasih semuanya ke kalian. Dijual bekas pun pasti laku mahal. Tolong bawa keluar." Para pekerja itu memang dibayar untuk datang. Begitu mendengar keuntungan sebesar itu, tentu mereka lebih memilih mendengarkan Gladys yang sudah dewasa. Saat itu juga, mereka langsung mengiakan dengan gembira. Ervan terlambat menghentikan mereka. Dia marah besar sambil menunjuk Gladys. "Kamu pikir kamu siapa? Ini hadiah dari mamaku untuk Kak Ingrid! Memangnya kamu punya hak buat ngatur? Kakakku pasti bakal ngusir kamu dari rumah!" Gladys mengerti sekarang. Di balik semua ini, selain Marshel, ada campur tangan ibu mertuanya, Farah. Dia menunduk memandang Ervan, lalu berkata perlahan, "Besok aku akan pergi ke sekolahmu dan bilang ke teman-temanmu kalau kamu mendukung kakakmu selingkuh dengan istri adik sepupunya sendiri. Keluarga Ruswandi mendukung perselingkuhan dan bangga sama moral mereka yang rusak." "Karena kamu begitu suka sama Ingrid, aku akan bantu promosikan dia biar kamu terkenal di sekolah, gimana?" Pilihan kata Gladys memang sangat kasar. Dulu, dia tidak pernah bersikap keras pada Ervan seperti ini. Selama ini, dia selalu membujuk dan memanjakannya sehingga Ervan sampai membelalak karena terkejut. Wajahnya memerah saat memekik, "Kamu memang wanita jahat dan kejam! Berani-beraninya kamu!" Gladys mengangkat bahu. 'Lihat, 'kan? Siapa bilang anak kecil nggak ngerti apa-apa dan cuma bicara polos tanpa maksud? Begitu pisaunya menusuk dirinya sendiri, baru terasa sakit.' Katanya tidak boleh mempermasalahkan sikap dan omongan anak kecil? Siapa yang menetapkan aturan itu? Keributan itu rupanya menarik perhatian orang. Farah masuk dengan ekspresi dingin. "Ada apa ini?" Sambil bertanya begitu, dia menatap Gladys dan mengernyit. "Sudah hampir jam 10, kenapa hari ini bangunnya telat sekali? Sup herbalnya belum jadi? Aku dan Ingrid makan apa kalau begini?" Kalau membicarakan hal ini, tenggorokan Gladys terasa sakit sampai tercekat. Dia memahami ilmu pengobatan. Setiap minggu saat pulang ke rumah Keluarga Ruswandi, dia akan mengurus kesehatan seluruh keluarga. Semua sup herbal dibuat sendiri olehnya, disesuaikan dengan kondisi tubuh dan selera setiap anggota keluarga. Dia bahkan bangun sebelum pukul 5 pagi untuk menyiapkannya sebelum berangkat kerja. Kemudian, dia akan menyuruh orang mengantarkannya untuk keluarga besar, keluarga cabang kedua, dan yang lainnya. Termasuk bagian milik Ingrid. Sebelumnya, Farah sangat baik pada Ingrid. Dia mengira Ingrid kompeten, cantik, dan cocok dengan para tetua, jadi Farah menyukainya. Namun, sekarang dipikir-pikir ... bukankah sebenarnya tanda-tandanya sudah ada sejak lama? Farah tahu Ingrid adalah wanita yang paling dicintai Marshel, karena itu dia sangat menyayangi Ingrid. Terlebih setelah tunangan Ingrid dipenjara, Farah bahkan terang-terangan maupun diam-diam berusaha menjodohkan mereka. Sementara dia sendiri dibodohi dan melayani selingkuhan suaminya selama setahun, seperti badut yang dipermainkan sampai berputar-putar. Mereka sama sekali tidak pernah menghormatinya sebagai manusia. Gladys tidak ingin terus mengalah lagi. Dengan tenang, dia mengucapkan kalimat terakhir, "Kalau tanpa aku kalian sampai merasa mau mati, ya silakan mati saja." Wajah Farah langsung berubah muram. Dia menatap punggung Gladys yang menjauh dengan tidak percaya. Bahkan para pelayan di samping pun ikut tertegun. Nyonya besar mereka jadi gila karena cemburu pada Ingrid? Bagaimana dia berani mengatakan kata-kata tidak berbakti seperti itu kepada ibu mertuanya? Farah segera tersadar kembali. Dia menyunggingkan senyuman dingin. "Memang orang miskin seperti dia nggak akan pernah naik kelas. Dengan toleransi sekecil itu masih bermimpi mempertahankan hati suami? Benar-benar mimpi!" .... Setelah membereskan barang-barangnya, Gladys pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja selama empat tahun untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Dulu dia memilih rumah sakit dengan kualifikasi biasa itu karena lokasinya dekat dengan Syncrest Group milik Marshel. Karena sekarang dia bahkan sudah tidak menginginkan pria itu lagi, tentu tidak perlu terus bertahan di sini. Dia tidak pernah benar-benar kehilangan jalan keluar. Dia punya tempat yang lebih baik untuk dituju .... Sore harinya, dia sudah membuat janji makan bersama Febby. Febby sudah mengirimkan lokasi restoran kepadanya. Letaknya tidak jauh. Begitu masuk ke restoran, Febby langsung melambaikan tangan kepadanya, menuangkan secangkir teh, lalu menyodorkannya. "Pengunduran dirimu sudah beres?" Gladys mengangguk. "Hampir." "Kamu yang minta cerai. Sikap Marshel gimana?" Febby cukup penasaran soal itu. Dengan ego pria seperti Marshel, mungkin dia merasa harga dirinya sebagai laki-laki telah diinjak-injak karena Gladys yang lebih dulu mengajukan cerai. Gladys menatap cangkir teh yang mengepulkan uap putih tipis, lalu menggeleng. "Dia nggak bilang apa-apa." Bahkan, dia tidak mau duduk tenang bersamanya untuk membicarakan perceraian dengan baik-baik. Meskipun dia sudah muak dan meminta cerai, Marshel tetap bisa mengabaikannya seperti biasa. Kalau dipikir-pikir, makhluk yang bernama pria memang lucu. Dia boleh membuangmu, tetapi kamu tidak boleh meninggalkannya lebih dulu. Febby sampai menggertakkan gigi karena marah. "Hati pria itu terbuat dari batu ya? Tujuh tahun lho! Mana mungkin seseorang nggak punya reaksi sedikit pun?" Gladys sendiri tidak tahu harus tertawa atau menangis. Kegagalannya sendiri, ketulusannya yang diinjak-injak, semua itu tidak bisa dia hindari sedikit pun. Hanya dia yang tahu penderitaan dan kepedihan selama tujuh tahun itu. Air matanya pun sudah lama kering. Dia bukan lagi wanita yang hanya bisa mengemis sedikit cinta dari Marshel demi bertahan hidup. Febby kembali bertanya apa yang membuat Gladys akhirnya memutuskan untuk bercerai. Gladys tidak menyembunyikannya. Dia menceritakan kejadian di IGD dengan jujur. Wajah Febby langsung menjadi suram karena marah. Dia menepuk meja dan berdiri. "Pasangan berengsek itu begitu nggak tahu malu? Ingrid itu masih punya harga diri nggak sih? Tunangannya baru dipenjara berapa lama, dia malah melakukan hal memalukan seperti itu dengan kakak sepupu tunangannya sendiri! Bahkan sampai hamil?!" Seumur hidupnya, baru kali ini dia mendengar hal seperti itu. Gladys tahu sifat Febby memang terus terang. Saat emosinya naik, suaranya otomatis ikut meninggi. Dia buru-buru menarik tangan Febby. Sebenarnya dia sendiri tidak terlalu tahu situasi detail semalam. Perawat muda hanya menceritakan garis besarnya kepadanya, dia juga hanya menjelaskan secara umum pada Febby. Tentang kondisi tubuh Ingrid, dia bahkan belum sempat memeriksanya. Ingrid memandang rendah kemampuan medisnya dan juga sangat waspada terhadapnya. Namun, semuanya sudah terlambat. Gladys mendengar dengusan dingin dari belakang. Dia menoleh dan melihat seorang pria berdiri di balik sekat ruangan. Dia mengenali orang itu. Salah satu sahabat Marshel yang jumlahnya tidak banyak, Verrel. Tatapan sinis dan jijik di mata Verrel tidak disembunyikan sedikit pun. Jelas, dia mendengar seluruh ucapan Febby tadi. Dia pun menganggap Gladys sengaja menyebarkan aib itu ke mana-mana. "Gladys, aku benar-benar nggak nyangka moralmu serendah ini." Verrel mencibir sambil menatapnya dari atas sampai bawah. Setelah mengejek, dia langsung melangkah ke lantai atas, sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Gladys untuk bereaksi. Sikapnya yang menganggap seolah-olah Gladys adalah pihak yang bersalah membuat Gladys mengernyit. Febby langsung meledak marah. "Memangnya dia siapa?! Mereka sendiri yang melakukan hal memalukan begitu, masih takut orang lain membicarakannya? Harusnya pasang spanduk di depan Syncrest Group sekalian! Saham mereka harus anjlok!" Gladys tahu itu mustahil, kecuali dia memang tidak ingin hidup tenang lagi di negara ini. Keluarga Ruswandi sangat berkuasa. Sebelum benar-benar berdiri kokoh, dia tidak akan mencari musuh terlalu jauh. Apalagi dia tahu dirinya sendirian dan masih harus melindungi Keisha. Dia belum sebodoh itu. Soal Verrel, dia tidak berniat memikirkannya lagi. .... Di lantai atas, setelah Verrel membuka pintu dan masuk, wajahnya masih terlihat dingin. Di ruang VIP elegan itu sudah diduduki banyak orang. Yang duduk di posisi utama tentu saja adalah Marshel. Pria itu tampak anggun, wibawanya terbentuk alami meskipun tanpa bicara. Dia sedikit menoleh memandang Verrel. Di sampingnya, ada Inggrid. Dengan senyuman tipis, dia memandang Verrel. "Siapa yang buat kamu marah?" Bab 5 Zayyan, sahabat lain yang ada di samping Marshel, ikut tertawa sambil bertanya, "Ya, kenapa mukamu murung begitu?" Setelah duduk, Verrel melirik Ingrid yang berada di seberang. Wanita itu selalu anggun dan tahu batas saat bergaul dengan mereka. Cara bicara dan pembawaannya juga nyaris tanpa cela. Namun, Gladys diam-diam memfitnahnya seperti itu! "Kalian tahu nggak siapa yang aku lihat di bawah tadi? Gladys." Mendengar itu, wajah Marshel yang tampan dan tegas tetap terlihat tenang. Jemarinya mengetuk meja dengan santai. Jelas, dia sama sekali tidak tertarik dengan urusan istrinya. Ingrid menuangkan secangkir teh untuk Verrel, lalu berkata dengan tenang, "Kalian bertengkar? Dia cuma wanita biasa, nggak usah dipikirin." Melihat Ingrid masih membela Gladys, Verrel justru merasa perbedaannya semakin jelas. Dia bersandar sambil mencibir. "Kalian tahu dia ngomong apa soal Ingrid? Parah banget. Aku benar-benar nggak nyangka perempuan kalau cemburu bisa separah itu." Dia mengulang ucapan yang tadi didengarnya di lantai bawah. Marshel yang tadinya tak tertarik membahas Gladys akhirnya sedikit menyipitkan mata. Alisnya perlahan berkerut. "Gladys yang ngomong langsung?" tanyanya sambil menoleh. Nada suaranya tak menunjukkan emosi apa pun. Wajah Ingrid semakin masam. "Verrel nggak mungkin bohong." Dia mengatupkan bibir, lalu menggantikan Verrel menjawab. Zayyan langsung memaki, "Ini sama saja menyebarkan fitnah murahan tentang Ingrid! Padahal Gladys sendiri 'kan perempuan! Pantas saja hidupnya gagal. Tujuh tahun jadi penjilat juga nggak dicintai. Otaknya cuma tahu bersaing dengan sesama perempuan?" Dia berpikir sejenak, lalu segera berkata, "Difitnah tanpa alasan begini jelas harus dimintai pertanggungjawaban." Begitu Zayyan mengatakan itu, Ingrid menarik napas pelan, lalu melirik Marshel yang diam, seolah-olah meminta pendapatnya. Marshel tidak menunjukkan sikap apa pun. Dia hanya mengambil ponselnya, lalu berdiri untuk menerima telepon. Tidak ikut campur, juga tidak berniat menghentikan mereka. Zayyan dan Verrel saling memandang, langsung mengerti sikap Marshel. Melihat betapa tak pedulinya Marshel terhadap Gladys, Ingrid menunduk sedikit, sudut bibirnya terangkat puas. .... Makanan baru saja dihidangkan. Gladys bahkan belum sempat makan beberapa suap ketika seorang pelayan berlari dengan tergesa-gesa. "Permisi, apa di sini ada dokter? Ada pasien di lantai atas yang penyakitnya kambuh!" Gladys langsung mengernyit. Naluri seorang dokter membuatnya spontan berdiri. "Antar aku ke sana." Febby tidak ikut. Dia sedang membalas email pekerjaan. Gladys dibawa ke depan sebuah ruang VIP. Karena terlalu mengkhawatirkan pasien, dia membuka pintu dengan agak terburu-buru. Tak disangka, ada orang di dalam. Saat pintu terbuka dan tertutup, seseorang yang sedang membawa panci tembaga panas langsung menumpahkannya ke arahnya. Gladys buru-buru mundur. Karena syok, punggungnya menabrak dada yang keras dan tegap, pinggangnya dirangkul oleh lengan kuat yang menariknya ke belakang. Dia mencium aroma pinus yang familier, aroma yang paling dikenalnya saat dulu mereka saling berbisik mesra. Marshel sudah mengangkat tangan dan menahan panci tembaga panas yang hampir menghantam Gladys. Wajah pelayan itu langsung pucat. Dia buru-buru mengambil kembali pancinya sambil meminta maaf. Gladys tidak menyangka akan bertemu Marshel di sini. Baru saja dia ingin mengucapkan terima kasih, dia melihat Ingrid berdiri di belakang Marshel. Tubuh Marshel melindungi Ingrid sepenuhnya di belakangnya. Saat melihat kontak fisik tak sengaja antara Gladys dan Marshel, wajah Ingrid tampak tak senang. Gladys langsung menjauh dari pelukan Marshel seolah-olah baru menyentuh wabah penyakit. Baru setelah melihat tindakannya itu, Marshel meliriknya dengan tatapan penuh arti. "Ternyata kamu juga takut terluka? Kukira kulit mukamu tebal, jadi nggak bakal kenapa-napa." Zayyan tertawa melihat kejadian itu. "Untung refleks Marshel cepat. Dia takut Ingrid terluka. Gladys, jangan salah paham ya, dia bukan nolongin kamu. Nanti malah jadi canggung." Zayyan kembali berkata sambil tersenyum tipis. Ekspresi Marshel tetap dingin, tetapi dia tidak menyangkal ucapan Zayyan. Gladys mengerti. Kalau tadi panci itu jatuh, kemungkinan besar Ingrid juga akan terluka. Marshel bukan melindunginya, dia melindungi Ingrid dan kebetulan sekalian menolongnya. Hanya kebetulan. Gladys tentu tidak akan salah paham. Dia tidak sepercaya diri itu. Verrel memang tidak berbicara, tetapi sorot matanya juga penuh penghinaan. Meskipun Gladys tidak tahu situasi lengkapnya, instingnya langsung merasa ada yang tidak beres. Dia berbalik ingin pergi, tidak mau terlibat dengan mereka. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik. Jari-jari panjang pria itu bergesekan dengan tulang pergelangan tangannya, membuat jantung Gladys berdegup keras. Saat menoleh, dia langsung bertemu dengan mata gelap dan dingin milik Marshel. Pria itu menatapnya. Suaranya yang ringan dan dingin terasa seperti duri yang menusuk tepat ke titik lemahnya. Dia berkata, "Minta maaf pada Ingrid." Seolah-olah dipaksa menelan asam sulfat, dada Gladys terasa terbakar sampai hancur. Dia pun menatap Marshel dengan dingin. "Alasannya?" "Kurasa kamu sendiri tahu." Marshel tampaknya tidak ingin mengucapkan hal-hal buruk tentang Ingrid. Dia juga segera melepaskan tangan Gladys, seolah-olah menjaga jarak. Gladys bisa menebaknya. Marshel mungkin takut Ingrid salah paham melihat mereka bersentuhan. Dia juga tidak bodoh. Melihat situasi ini, dia langsung memahami semuanya. Verrel pasti sudah membesar-besarkan omongan Febby. Mereka sengaja memancingnya ke atas untuk mengeroyoknya. "Gladys, kalau salah ya ngaku," kata Zayyan. "Kalau kamu mengakuinya secara terbuka, setidaknya nggak akan separah ini." Verrel mengetuk meja sambil menyambung dengan santai. "Ya, Ingrid juga nggak hamil. Dia nggak takut difitnah karena dia memang nggak bersalah. Jangan sembarangan nuduh dia begitu." Zayyan benar-benar tidak mengerti bagaimana Gladys bisa mengarang fitnah seperti itu. Mereka semua tahu Gladys pernah menerima kebaikan Keluarga Ruswandi sejak kecil. Orang dari Keluarga Ruswandi yang membawa Gladys masuk ke keluarga itu. Secara logika, Gladys seharusnya dianggap seperti adik Marshel. Namun, adik ini ternyata tidak tahu malu. Baru genap 20 tahun, dia malah naik ke ranjang Marshel, mati-matian merebut pernikahan yang menguntungkan dan menyeret Marshel jatuh ke jurang bersamanya. Tentu saja, mereka tidak memiliki kesan baik terhadap Gladys! Ingrid menatap Gladys, lalu berkata dengan murah hati, "Gladys, kalau kamu nggak senang, aku harap kamu bicara langsung, bukan pakai cara murahan seperti ini. Kita sama-sama perempuan, aku nggak akan mempersulitmu. Tapi permintaan maaf di depan semua orang tetap pantas aku terima." Gladys cukup terkejut mengetahui Ingrid ternyata tidak hamil. Dia sempat mengernyit, lalu segera merasa lega. Apa pun kenyataannya, dia juga sudah tidak peduli lagi. Lagi pula, dengan rumor bahwa Marshel mandul yang sudah terkenal, memang kemungkinan hamil juga kecil. Orang busuk memang tidak tahu batas, begitu juga pria pengkhianat yang tidak tahu malu. Gladys memandang Ingrid. Setelah mengagumi betapa tidak tahu malunya wanita itu, dia berkata, "Boleh saja." Ingrid benar-benar tidak menyangka Gladys akan setenang itu. Tatapan Marshel ikut turun memandang Gladys, merasa seolah-olah memang sudah seharusnya Gladys melakukan itu. Namun, detik berikutnya mereka mendengar Gladys berkata, "Aku bisa bikin beberapa akun media sosial dan minta maaf secara terbuka kepada Ingrid. Aku salah karena telah menghalangi calon adik iparku tidur dengan suamiku sendiri." "Wawasanku memang sempit dan hatiku kecil. Aku jelas nggak sehebat Ingrid yang begitu bersemangat menjadi selir, juga nggak sehebat Marshel yang sanggup melayani dua wanita sekaligus." Bab 6 Ekspresi Marshel tidak banyak berubah, tetapi sorot matanya menjadi gelap dan dingin, seolah-olah sedang menahan rasa tidak senang saat menatap Gladys. Verrel dan Zayyan sama-sama tertegun. Bukankah ucapan Gladys tadi terlalu kasar? Apa ini cara baru untuk menarik perhatian Marshel? Lagi pula, Gladys bilang mau meminta maaf secara terbuka? Bukankah itu sama saja sengaja ingin mempermalukan Ingrid di depan umum? Ekspresi Ingrid langsung menjadi dingin. Dia menarik sudut bibir seolah-olah dirinya adalah korban di sini. "Gladys, kamu belum capek bikin keributan?" Melihat sikap Ingrid yang begitu yakin membalikkan keadaan, Gladys benar-benar terkejut. Kalau orang sudah percaya pada sesuatu, dia tidak mau membuang tenaga menjelaskan atau membela diri! Toh mereka juga akan bercerai. Terus berurusan dengan orang-orang busuk hanya akan membuat dirinya semakin lelah. Gladys langsung berbalik dan pergi. Namun, saat melewati Marshel, tatapan pria itu tertuju pada dirinya, bahkan sudut bibirnya terangkat samar dengan makna yang sulit ditebak. Dia bertanya perlahan, "Kamu ini mau main lembut dan keras sekaligus?" Gladys sempat tidak mengerti. "Apanya?" Pandangan Marshel sedikit turun, lalu dia mencibir. "Kenapa sekarang nggak membantah lagi?" Padahal tadi mulutnya masih begitu tajam. Gladys akhirnya mengerti dan matanya langsung memerah. Emosinya tersulut. Semua emosinya, entah itu histeris, hancur, sedih, atau putus asa sampai memilih menyerah, di mata Marshel semuanya hanyalah taktik dan permainan. Bahkan saat dia marah sampai rasanya ingin muntah darah dan mati, yang dia dapat hanya cap "berpura-pura". Dia bukan Ingrid. Tidak ada banyak orang yang membelanya. Jika terus berdebat, dia hanya akan terlihat semakin menyedihkan. Lagi pula, Marshel menganggap dia masih "membuat keributan", seolah-olah dia hanya sedang bersikap kekanak-kanakan. Apa pun yang dia katakan atau lakukan, pria itu tidak akan memercayainya sedikit pun. Jadi, untuk apa terus berbicara? Gladys perlahan menenangkan diri. Dia sudah tidak punya tenaga untuk berdebat lagi. Dia lantas mengangguk dan menurut. "Kalau begitu, aku doakan kalian bahagia, cukup?" Tanpa peduli seperti apa ekspresi Marshel, dia pergi tanpa menoleh lagi. Tiga bulan, dia hanya perlu bertahan tiga bulan lagi, lalu pernikahan yang membuatnya sesak ini akan benar-benar berakhir! Marshel melirik ke arahnya dengan dingin. Hanya dua detik, sebelum akhirnya dia memalingkan pandangannya kembali. Dia sama sekali tidak berniat menanggapi emosi tajam Gladys. Baginya, beberapa emosi kalau didiamkan saja akan hilang sendiri seolah-olah tidak pernah muncul. Itulah pola dan pemahaman diam-diam mereka selama tujuh tahun terakhir. .... Gladys tidak menceritakan kejadian tadi kepada Febby, takut Febby marah besar dan mencari orang untuk berkelahi. Dia juga sudah tidak nafsu makan. Setelah berpisah dengan Febby, dia kembali ke apartemen untuk membereskan barang-barangnya. Saat semuanya hampir selesai, waktu sudah mendekati pukul 9 malam. Dia baru sadar buku medis yang diberikan gurunya ternyata belum dibawa. Gladys mengacak-acak rambutnya sambil menghela napas. Dia baru ingat buku itu disimpan di brankas rumah pernikahan mereka. Tanpa menunda, dia langsung mengenakan jaket seadanya, lalu menyetir ke sana. Lagi pula Marshel jarang pulang ke rumah itu. Mereka tidak mungkin bertemu. Dengan gesit, dia naik ke lantai atas, lalu membuka pintu kamar tidur dan langsung bertatapan dengan pria di dalam. Marshel berdiri di depan jendela besar. Ponsel di tangannya sedang melakukan panggilan video. Dalam sekilas pandang, Gladys melihat wajah Ingrid di layar. Mereka terlihat seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta, sampai ingin selalu melihat satu sama lain setiap saat. Marshel mengernyit menatapnya. Nada suaranya dingin tanpa emosi. "Kenapa nggak ketuk pintu?" Ucapan itu membuat Gladys membeku. Dia adalah istrinya. Di rumah yang sudah dia tinggali selama tujuh tahun ini, sekarang justru muncul aturan harus mengetuk pintu karena pria itu sedang dimabuk cinta dengan Ingrid? "Keluar!" perintah Marshel dengan tegas, seolah-olah Gladys sengaja datang untuk menguping kemesraan mereka. Jantung Gladys tiba-tiba terasa sakit. Dengan refleks, dia langsung menutup pintu dan keluar. Dia tidak punya hobi menyiksa diri sampai harus berdiri mendengarkan betapa manis hubungan perselingkuhan suaminya. Setelah turun, Rita, pelayan rumah, juga keluar karena mendengar keributan. Begitu melihat Gladys, dia langsung berkata, "Nyonya, Nyonya Dian telepon." Gladys melirik telepon rumah di sana. Dia ragu sejenak sebelum berjalan mendekat. Rita tahu meski Gladys tidak disayang suaminya, Nyonya Tua Ruswandi cukup baik padanya. Jadi dia tidak ikut mendengarkan dan langsung ke atas untuk mengambil keranjang pakaian kotor. "Gladys?" Terdengar suara ramah Dian dari telepon. Gladys melihat jam sambil memikirkan buku medisnya. "Nenek belum tidur?" Dian mendengus ringan. "Tubuh Nenek masih sehat. Nenek cuma ikut begadang seperti kalian anak muda. Lagi pula ada obat yang sering kamu kirim, jadi nggak masalah." Gladys diam menunggu lanjutan pembicaraan. Benar saja, Dian tertawa kecil sebelum langsung masuk ke topik utama. "Glad, kamu 'kan ngerti pengobatan. Kenapa nggak racik obat untuk dirimu sendiri? Persiapan hamil itu penting supaya nanti bisa melahirkan anak sehat. Kamu juga tahu Keluarga Ruswandi punya lebih banyak keturunan laki-laki daripada perempuan." "Kalau ada cicit perempuan yang manis, pasti menyenangkan sekali. Lagi pula punya anak juga bisa mempererat hubungan suami istri. Sebenarnya Marshel sangat suka anak kecil lho." Topik mendesak punya anak seperti ini tidak pernah berhenti selama bertahun-tahun. Tentang keberadaan Keisha, Gladys tidak pernah membocorkannya sedikit pun. Sekarang karena sudah memutuskan bercerai, dia semakin tidak mungkin mengatakannya. Toh meskipun belum bercerai, apa gunanya kalau hanya dia sendiri yang menjaga kondisi tubuhnya? Marshel sendiri sangat dingin soal urusan ranjang dan tidak tertarik melakukan hal seperti itu. Terlebih lagi, Marshel sendiri pernah mengatakan bertahun-tahun lalu, dia tidak akan punya anak. Tidak mungkin Dian tidak tahu rumor tentang Marshel yang "mandul". Dia malah tetap menyuruhnya minum obat untuk mempersiapkan kehamilan. Gladys merasa perempuan di dunia ini benar-benar seperti diperas habis-habisan, bahkan masih harus menanggung berbagai tuduhan yang tidak masuk akal. Terlalu tidak adil. Namun, untuk menghentikan topik ini .... Gladys mengepalkan tangannya erat-erat dan akhirnya berkata dengan jujur, "Nenek, aku berencana cerai dengan Marshel." Suasana di seberang telepon langsung hening. Dian jelas sangat terkejut. Setelah waktu yang cukup lama, Dian akhirnya berkata dengan kaku, "Nenek tahu kamu banyak menderita. Anak itu memang dari kecil nggak ngerti cara mencintai orang lain, tapi setidaknya dia masih bisa menjaga hubungan dengan baik. Glad, coba pikirkan lagi ya?" "Aku sudah memutuskan." Dian terdiam beberapa saat, lalu menghela napas berat sebelum langsung menunjukkan sikapnya. "Glad, Keluarga Ruswandi yang bersalah padamu. Tenang saja, meskipun kalian cerai, Nenek akan carikan jalan untukmu. Di lingkaran pergaulan kita masih banyak pria baik. Kalau ada yang cocok, Nenek akan segera aturkan untukmu." Gladys langsung terkejut. Dia tidak menyangka Dian akan mengatakan hal seperti itu. Bahkan sebelum resmi bercerai, Dian sudah mau mencarikannya pasangan baru sebagai kompensasi? Bukankah terlalu cepat? Di saat yang sama, Gladys juga merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ternyata semua orang tahu betapa buruk pernikahannya dengan Marshel selama bertahun-tahun. Mereka semua sudah terbiasa melihatnya terus mengalah dan terus bersabar demi Marshel, jadi semua penderitaannya dianggap tak terlihat. Namun, mulai sekarang tidak akan lagi. Setelah panggilan berakhir, Gladys melihat jam. Sudah lewat sepuluh menit. Dia berpikir, sebagai suami yang masih sah untuk sementara ini, apa Marshel sudah cukup bermesraan dengan pacarnya? Dia hanya ingin mengambil buku medisnya, lalu segera pergi. Baru saja dia hendak naik untuk mendesak, pintu depan tiba-tiba dibuka dengan keras. Nyonya keluarga cabang kedua, Prilly, melangkah masuk dengan wajah sangat masam, lalu langsung berjalan ke depan Gladys. Tangannya terangkat dan hendak menampar! Untungnya, refleks Gladys lumayan cepat. Dia buru-buru mundur setengah langkah. Tamparan itu tidak sepenuhnya mengenai wajahnya, tetapi sebagian jari tangan Prilly tetap menyapu pipinya. Plak! Pipi Gladys tetap terasa kebas. Kemudian, dia mendengar Prilly menunjuknya sambil memaki. "Gladys, kamu sudah gila karena cemburu? Apa untungnya jadi wanita penuh dendam yang mau menyeret semua orang ikut tenggelam karena hidupnya sendiri nggak bahagia?!" Gladys ditampar begitu mendadak sampai belum sempat bereaksi. Dia bahkan belum sempat membalas Prilly ketika mendengar suara langkah kaki. Saat menoleh, dia melihat Marshel entah sejak kapan sudah turun dan layar panggilan videonya masih menyala. Di depan matanya sendiri, Ingrid yang ada di layar melihat dirinya yang baru saja ditampar, malah tertawa kecil. Bab 7 Tawa kecil yang tidak terlalu keras maupun pelan itu terasa seperti duri yang menancap keras di hati Gladys. Ingrid melihat dengan jelas betapa kacaunya dirinya saat ditampar Prilly dan terang-terangan menjadikannya bahan tertawaan. Dia bahkan melihat sendiri bagaimana sikap dingin Marshel yang sama sekali tidak membelanya. Meskipun Gladys sudah tidak menginginkan Marshel lagi, dipermalukan seperti ini di depan pelakor tetap membuatnya merasa ... sangat hina. Marshel melirik ke arah Prilly dengan dingin, lalu berkata kepada Ingrid bahwa mereka akan lanjut mengobrol nanti sebelum mematikan panggilan video itu. Tatapannya yang tenang menyapu sekilas pipi Gladys yang memerah, lalu akhirnya tertuju pada Prilly. Suaranya ringan dan dingin. "Tante, apa maksudmu?" Marshel tidak langsung bertanya apakah dirinya sakit atau tidak. Gladys juga tidak berharap bisa melihat sedikit pun rasa kasihan di wajah pria itu. Selama tujuh tahun ini, dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Marshel terhadapnya. Dia bahkan sudah terbiasa memendam semuanya sendirian. Saat bertemu tatapan Marshel, tubuh Prilly gemetar tanpa alasan. Bagaimanapun, Gladys masih istri Marshel. Menampar Gladys sama saja menampar Marshel. Meskipun Marshel tidak peduli hidup mati istrinya, harga dirinya jelas lebih penting daripada Gladys. Memikirkan itu, Prilly langsung menunjuk Gladys. "Semua ini gara-gara Gladys! Berita soal kamu temani Ingrid ke rumah sakit sudah tersebar! Itu rumah sakit tempat Gladys bekerja, kalau bukan dia pelakunya, siapa lagi?" "Di postingannya juga ada banyak kata-kata provokatif! Katanya ... katanya Ingrid hamil anakmu! Dia bahkan bilang kalian ...." Prilly tidak sanggup melanjutkannya, hanya bisa menatap Gladys dengan marah. Bagaimanapun, Ingrid masih tunangan putranya! Pernikahan mereka belum resmi dibatalkan. Bukankah ini sama saja mempermalukan keluarga cabang kedua secara terang-terangan? Bagaimana dia bisa tetap bergaul di lingkaran sosialnya nanti? Orang-orang pasti akan mentertawakannya habis-habisan. Karena itulah dia sangat membenci Gladys yang tidak becus! Sudah tidur dengan suaminya selama tujuh tahun, tetapi tetap tidak bisa meninggalkan sedikit tempat pun di hati pria itu, tidak mampu mempertahankan hati suami sampai suaminya mencari wanita lain dan menghancurkan pernikahan anaknya! Gladys sendiri juga cukup terkejut. Dia memang sempat berkata akan membuat postingan permintaan maaf untuk Ingrid, tetapi dia sama sekali tidak melakukan hal seperti ini. Waktu tersebarnya juga terlalu pas, sampai-sampai terlihat benar-benar seperti ulahnya. Gladys mengeluarkan ponselnya dan mencari kata kunci terkait. Benar saja, postingan itu memang ada. Pilihan kata si pengunggah jelas terlihat sudah dipikirkan matang-matang. Hubungan terlarang antara Marshel dan Ingrid digambarkan seperti kisah cinta sejati yang romantis. Tanpa sadar, Gladys menoleh ke arah Marshel. Dia pun baru sadar pria itu ternyata sudah lama menatapnya. Detik berikutnya, Marshel tiba-tiba bertanya seperti orang luar yang tak terlibat, "Kamu sebenci itu sama dia?" Padahal Marshel tidak mengatakan apa-apa secara langsung, tetapi Gladys bisa mendengar makna tersembunyi di balik ucapannya. Pria ini sudah yakin Gladys cemburu sampai ingin menghancurkan Ingrid? Dituduh tanpa alasan seperti ini membuat wajah Gladys tetap datar. "Kalau memang aku yang pelakunya, aku nggak mungkin pakai kata-kata sehalus itu untuk membahas hubungan kalian." Bagaimana mungkin dia masih mau memperindah hubungan mereka lewat pilihan kata? Prilly tidak percaya. "Tentu saja kamu nggak berani memaki terang-terangan! Soalnya kamu takut diusir Marshel!" Siapa di Keluarga Ruswandi yang tidak tahu kalau Gladys tidak akan bisa hidup tanpa Marshel? Gladys muak dengan cara pandang Prilly. Namun, dia sadar bahwa dirinya memang tidak bisa membantah. Karena Gladys yang dulu memang benar-benar menyerahkan seluruh hidupnya kepada Marshel sampai harga dirinya sudah tidak bersisa. Marshel melirik Gladys. Dia tidak peduli apakah Gladys ingin menjelaskan atau tidak. Tatapannya sekilas menyapu pipinya yang merah. Kemudian, dia menoleh pada Rita yang keluar karena mendengar keributan. "Ambilkan kantong es untuk Gladys." Rita langsung tersadar dari rasa penasarannya dan buru-buru menurut. Ucapan Marshel itu sontak memotong pikiran Gladys yang tadi tertahan. Namun dalam hatinya, perhatian Marshel itu sudah tidak lagi menimbulkan riak apa pun. Baginya, itu bukan perhatian tulus ataupun rasa peduli, hanya sopan santun dan kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Hal paling memalukan bagi seseorang adalah merasa bahwa dirinya sendiri terlalu berarti. Marshel kembali memandang Prilly, lalu memberikan keputusan dan sikapnya. "Kalau masalah ini terus membesar, nggak akan ada untungnya. Demi nama baik Keluarga Ruswandi, pertunangan Ingrid dan Julian dibatalkan saja. Umumkan ke publik kalau mereka nggak pernah bertunangan." Wajah Prilly langsung membeku. Dia tidak menyangka sikap Marshel akan seperti ini. Awalnya dia datang untuk mencari masalah, tetapi sekarang ... sepertinya memang tidak ada cara lain. Gladys memegang kantong es sambil menatap wajah tampan dan elegan Marshel. Tatapannya mengandung sedikit ejekan untuk dirinya sendiri. Jadi ... inilah tujuan Marshel sebenarnya. Memanfaatkan situasi untuk benar-benar memutus hubungan Ingrid dengan keluarga cabang kedua, supaya nanti Ingrid dan dirinya bisa bersama secara resmi dan wajar. Jelas sekali Marshel sudah tidak sabar ingin memberikan status kepada Ingrid .... "Bi Rita, antar tamu keluar." Marshel sama sekali bukan sedang berdiskusi dengan Prilly. Setelah berkata begitu, dia melirik Gladys dengan tatapan sulit ditebak sebelum kembali ke lantai atas. Prilly kesal setengah mati, tetapi dia juga tidak berani terang-terangan melawan Marshel yang sebentar lagi akan memegang seluruh kekuasaan keluarga. Sebelum pergi, dia hanya bisa memelototi Gladys. "Ibu rumah tangga memang nggak berguna! Selain urus dapur, nggak punya kemampuan apa-apa. Mau secantik apa pun percuma!" "Dari kemampuan dan akal, mana ada yang bisa dibandingkan dengan Ingrid? Pantas saja hidupmu jadi begini! Gladys, kamu memang pantas mendapatkannya!" Kali ini Gladys bahkan malas membalas sindiran itu. Sekarang, semua pengorbanan dan harapannya selama bertahun-tahun itu benar-benar membuatnya merasa seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat. Gladys pergi ke kamar mandi. Kulitnya putih. Meskipun tadi dia berhasil menghindari sebagian besar tamparan Prilly, pipinya tetap sedikit merah dan bengkak. Dia membasuh bagian kulit yang terkena sentuhan Prilly dengan air bersih, lalu menenangkan diri selama beberapa saat. Masalah di IGD rumah sakit sudah tersebar dan dia tidak punya kebiasaan menjadi kambing hitam untuk orang lain. Setelah bertanya kepada Rita dan mengetahui Marshel sudah kembali ke kamar tidur, Gladys mengetuk pintu kamar seperti yang diajarkan. Toh rumah ini sebentar lagi bukan rumahnya lagi. Dia masih punya kesadaran diri sebagai tamu. Pintunya tidak tertutup rapat, tetapi di dalam juga tidak ada suara. Gladys menunggu beberapa saat, baru kemudian terdengar suara percakapan dari dalam. "Tante keduamu pergi cari Gladys?" Suara Farah terdengar dari speaker ponsel. Marshel keluar dari kamar mandi, lalu berjalan ke lemari sambil membungkuk mencari sesuatu. "Mm." "Masalah kamu dan Ingrid pergi cari dokter kandungan itu, sebenarnya kamu atau Ingrid yang sebarin? Kalian sengaja buat Gladys jadi kambing hitam dan menanggung kemarahan keluarga cabang kedua?" Ucapan itu membuat pupil mata Gladys menyempit. Dia benar-benar tidak menyangka ada kemungkinan konyol seperti ini. Jadi, dia dijadikan tameng untuk hubungan cinta menyimpang mereka? Namun, Marshel tidak menjawab pertanyaan itu. Entah karena mengakuinya diam-diam atau memang malas menjawab. Farah kembali berkata sambil tertawa, "Masalah ini juga nggak akan membesar. Sebelum jadi besar pasti sudah bisa ditekan. Gladys 'kan cinta kamu setengah mati, dia nggak bakal tega buat kamu repot." "Aku tahu." Kali ini Marshel menjawab. Nada suaranya santai, sulit ditebak dia sedang menyetujui bagian yang mana. Di depan pintu, tangan Gladys perlahan mengepal erat. Dia buru-buru mendongak untuk menenangkan emosinya. Kemudian, dia tidak lagi mengikuti aturan Marshel yang mengharuskannya mengetuk pintu seperti orang asing. Dia langsung membuka pintu dan masuk. Mendengar suara itu, Marshel menoleh, tetapi tidak berkata apa-apa. Panggilannya juga sudah berakhir. Gladys juga tidak meliriknya lagi. Dia bahkan tidak ingin menjelaskan soal tuduhan tadi, karena itu hanya akan membuat dirinya tampak seperti orang bodoh yang tidak tahu kalau dirinya dipermainkan. Dia berjalan ke arah brankas, memasukkan kata sandi, lalu mengambil buku medis berharganya. Tatapan Marshel jatuh pada punggung rampingnya selama dua detik. Bukan berarti dia tidak menyadari suasana hati Gladys sedang buruk, hanya saja dia tidak berniat bertanya lebih jauh. Marshel berbalik dan melangkah kembali dari balkon dengan kaki panjangnya. Namun, saat melewati meja rias Gladys, tatapannya tertarik pada sebuah map dokumen di atas meja itu. Langkahnya langsung terhenti.

More GoodNovel Novels